Kekayaan Boy Thohir: Angka Forbesnya Diam di US$3,8 Miliar Meski Perusahaannya Baru Saja Jual Aset Batu Bara Rp39 Triliun
Baca 7 menit
Baca 7 menit
Kalau kamu pernah dengar nama Adaro atau lihat ticker ADRO di aplikasi trading, kemungkinan besar kamu belum pernah dengar kabar bahwa perusahaan itu baru saja ganti nama jadi Alamtri Resources Indonesia, atau bahwa pemilik terbesarnya baru saja melego saham tambang batu bara di Australia senilai puluhan triliun rupiah. Kekayaan Garibaldi "Boy" Thohir menarik justru karena polanya kebalikan dari kebanyakan sosok di seri ini: bisnisnya sibuk berubah bentuk, tapi angka yang dipublikasikan Forbes untuknya diam saja.
Forbes mencatat kekayaan Boy Thohir, bersama keluarganya, di angka US$3,8 miliar dalam daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" yang terbit 10 Desember 2025, menempatkannya di peringkat ke-19 Indonesia. Lima bulan kemudian, pada 15 April 2026, liputan Forbes soal bisnisnya masih menyebut angka yang sama persis. Padahal di antara dua tanggal itu, tambang batu bara yang sebagian dimiliki grupnya di Australia terjual hingga US$2,4 miliar, dan Boy Thohir sendiri aktif berdagang saham di dua perusahaan terbuka lain.
| Tanggal | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| 10 Desember 2025 | US$3,8 miliar | Daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" Forbes, #19 Indonesia, sektor energi, atas nama Thohir dan keluarga |
| 15 April 2026 | US$3,8 miliar | Angka yang sama, disebut lagi dalam liputan Forbes soal penjualan tambang Kestrel Coal |
Dua-duanya dari Forbes, jadi ini perbandingan yang sah dari satu sumber yang sama, bukan lintas tracker, dan angkanya memang tidak berubah sepanjang rentang yang bisa dipastikan run ini. Tidak ditemukan angka Bloomberg Billionaires Index yang secara khusus dan bertanggal memberi harga untuk Boy Thohir. Daftar orang terkaya Indonesia versi Bloomberg, sebagaimana dilaporkan Bloomberg Technoz hingga Juli 2026, hanya mencantumkan segelintir nama seperti Sukanto Tanoto, Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong, dan Robert Budi Hartono; nama Boy Thohir tidak ada di situ. Sama seperti temuan pada profil Dewi Kam, kalau cuma satu penerbit yang memberi harga untuk seseorang, lebih baik dikatakan terus terang daripada dianggap kekurangan data yang perlu ditutupi.
Ada tiga lapis, bukan satu, dan tiap lapis punya tingkat keterbukaan yang berbeda.
Kepemilikan pribadi langsung di eksportir batu bara Indonesia. Boy Thohir memegang sekitar 1,97 miliar lembar saham Alamtri Resources Indonesia, nama baru Adaro Energy Indonesia sejak berganti nama pada November 2024, setara 6,73% saham perusahaan, menurut data RTI Infokom yang tercatat hingga akhir 2025 dan kembali dilaporkan Mei 2026. Sahamnya diperdagangkan di IDX dengan kode ADRO, sudah bisa ditautkan di NetWort, dan kode saham ini tidak berubah meski nama perusahaannya berganti.
Kepemilikan keluarga dan konsorsium yang jauh lebih besar, tapi satu langkah lebih jauh. Pemegang saham pengendali Alamtri Resources adalah PT Adaro Strategic Investments (ASI), dengan 47,79% saham, sebuah perusahaan induk yang didirikan konsorsium termasuk Boy Thohir dan investor lain, Edwin Soeryadjaya. Klaim ekonominya atas blok saham itu tidak sama dengan 6,73% kepemilikan pribadinya, sebuah perbedaan yang perlu ditegaskan, bukan dibiarkan bercampur jadi satu angka, mirip lapisan perusahaan induk yang NetWort temukan pada struktur First Pacific milik Anthoni Salim.
Usaha patungan tambang batu bara di Australia yang berdiri sendiri secara privat. Sejak 2018, Adaro Andalan Indonesia bersama EMR Capital yang berbasis di Hong Kong, sama-sama menguasai 80% saham pengendali Kestrel Coal, tambang batu bara kokas di Bowen Basin, Queensland, dengan sisa 20% dipegang Mitsui Coal Australia asal Jepang. Kepemilikan itu dibeli dari Rio Tinto pada 2018 seharga US$2,3 miliar.
Peristiwa paling nyata dan paling jelas angkanya dalam beberapa bulan terakhir bukan pergerakan harga saham. Ini transaksi sungguhan.
Pada 15 April 2026, Forbes dan Bloomberg sama-sama melaporkan bahwa Adaro Andalan bersama EMR Capital sepakat menjual saham pengendali mereka di Kestrel Coal ke Yancoal Australia, perusahaan yang mayoritas sahamnya dikuasai grup energi China, Yankuang Energy Group, senilai hingga US$2,4 miliar, terdiri dari US$1,85 miliar di muka dan hingga US$550 juta tambahan yang nilainya mengikuti harga batu bara selama lima tahun ke depan. Ini salah satu transaksi aset batu bara terbesar yang melibatkan konglomerat Indonesia yang pernah ditemukan seri ini, dan arahnya menjauh dari batu bara, bukan makin dalam ke sana.
Penjualan itu berbarengan dengan dua langkah pribadi yang lebih kecil: menambah saham Trimegah Sekuritas pada November 2025, dan keluar-masuk posisi di Merdeka Battery Materials sepanjang 2024 dan 2025. Tak satu pun dari tiga langkah ini tercermin sebagai perubahan pada angka US$3,8 miliar yang dikutip Forbes, sesuatu yang justru layak dicatat, bukan diasumsikan begitu saja bahwa angka itu otomatis mengikuti apa pun yang dilakukan perusahaannya.
Di atas kertas, angkanya terlihat sangat stabil. Di baliknya, aktivitasnya justru ramai.
Setiap bagian dari struktur di atas terdokumentasi tersendiri: keterbukaan pemegang saham IDX untuk saham ADRO dan TRIM, nama pembeli dan harga dolar yang jelas untuk penjualan Kestrel Coal, serta laporan transaksi bertanggal untuk perdagangan saham Trimegah dan Merdeka Battery. Tapi angka utama Forbes untuk Boy Thohir tidak berubah di antara dua kemunculan bertanggal yang bisa dipastikan run ini, berjarak lima bulan, mencakup penjualan aset senilai US$2,4 miliar. Ini kebalikan dari pola Djoko Susanto, yang angka Forbesnya hampir terpangkas separuh dalam rentang waktu yang sebanding, dan dari Low Tuck Kwong, yang seluruh kekayaannya masih bertumpu pada satu saham terkonsentrasi di Bayan Resources. Kepemilikan Boy Thohir justru yang paling terdiversifikasi di antara ketiganya, tersebar di batu bara, logam baterai, dan perusahaan sekuritas, tapi diversifikasi itu tidak terlihat jelas dari seberapa sering tracker memperbarui angkanya.
Tiga hal.
Sebuah kekayaan bisa aktif berubah bentuk sementara angka utamanya diam saja. Penjualan Kestrel Coal, penambahan saham Trimegah, dan perdagangan saham Merdeka Battery adalah tiga transaksi terpisah, bertanggal, dan nyata. Angka US$3,8 miliar dari Forbes tidak mencerminkan satu pun dari ketiganya secara spesifik.
Kepemilikan pribadi dan kendali lewat perusahaan induk itu dua klaim yang berbeda, dan profil ini punya keduanya. 6,73% kepemilikan langsung Boy Thohir di Alamtri Resources adalah angka pasti yang terbuka. Bagiannya dalam 47,79% yang dipegang Adaro Strategic Investments adalah pengaruh nyata, tapi bukan angka yang sama, perbedaan yang sama pentingnya seperti pada struktur First Pacific milik Anthoni Salim.
Keluar dari satu komoditas saja tidak otomatis membuat angkanya naik atau turun. Batu bara yang membangun kekayaan ini. Logam baterai, perusahaan sekuritas, dan penjualan tambang di Australia kini jadi bagian darinya juga, jalur yang berbeda dari konsentrasi satu saham Low Tuck Kwong di Bayan Resources, meski keduanya sama-sama memulai dari komoditas yang sama.