Kekayaan Ciliandra Fangiono: US$3,05 Miliar Versi Forbes, Naik dari US$2,4 Miliar tapi Peringkatnya Turun
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kekayaan Ciliandra Fangiono tercatat US$3,05 miliar di daftar Indonesia's 50 Richest 2025 versi Forbes, yang diperbarui 10 Desember 2025, peringkat 27. Setahun sebelumnya, daftar Forbes 12 Desember 2024 menaruhnya di US$2,4 miliar, peringkat 24. Angkanya naik sekitar 27%, tetapi peringkatnya turun tiga tingkat. Keduanya dari tracker yang sama, jadi ini perbandingan sebelum dan sesudah yang sah.
Ciliandra, 50 tahun, adalah CEO First Resources, perusahaan kelapa sawit tercatat di Singapura dengan kebun di Indonesia, yang didirikan ayahnya, Martias Fangiono, pada 1992. Forbes menulis entrinya sebagai "Ciliandra Fangiono & family", jadi angkanya menghitung kepemilikan keluarga, bukan hanya saham pribadinya.
| Penerbit | Tanggal | Angka | Peringkat di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2024 | 12 Desember 2024 | US$2,4 miliar | 24 |
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2025 | 10 Desember 2025 | US$3,05 miliar | 27 |
Dua baris ini sama-sama Forbes dan sama-sama potret tahunan, jadi aman dibandingkan. Forbes juga melaporkan total kekayaan daftar 2025 mencapai US$306 miliar, naik dari US$263 miliar setahun sebelumnya. Itu sebabnya kekayaan bisa tumbuh tapi tetap kehilangan peringkat: orang-orang di sekitarnya tumbuh lebih cepat.
Kami tidak menemukan angka Bloomberg Billionaires Index untuk Ciliandra, dan tidak menemukan angka real-time Forbes 2026 yang bertanggal. Angka US$2,2 miliar, US$2,35 miliar atau US$1,83 miliar beredar di liputan lama tanpa tanggal yang bisa kami pastikan, jadi tidak kami pakai.
Forbes menelusuri kekayaannya ke First Resources, produsen kelapa sawit dengan kebun di Sumatra dan Kalimantan, tercatat di bursa Singapura sejak 2007. Menurut Forbes, keluarga memegang saham mayoritas. Adiknya, Wirastuty Fangiono, juga masuk daftar Forbes dan, menurut Forbes, mengendalikan FAP Agri yang tercatat di bursa Indonesia serta memegang saham First Resources. Kakaknya, Cik Sigih Fangiono, menjabat wakil CEO First Resources.
Karena First Resources tercatat, bagian terbesar angkanya ikut bergerak mengikuti harga sahamnya. Kepemilikan privat keluarga tidak.
Perubahan yang paling jelas terdokumentasi ada di sisi korporasi. Forbes melaporkan pada 18 Maret 2025 bahwa First Resources sepakat membeli sekitar 91% PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) senilai US$329 juta. IDN Financials melaporkan pembelian 91,17% dari empat pemegang saham besar rampung pada 6 Mei 2025. Bisnis.com melaporkan pada 6 Oktober 2025 bahwa tender offer wajib susulan selesai pada 3 Oktober 2025, sehingga kepemilikan First Resources naik ke 95,92%.
Soal kinerja, laporan 1Q2026 First Resources sendiri ke Bursa Singapura, yang diberitakan pada Mei 2026, mencatat laba bersih naik 53,1% menjadi US$96,6 juta, penjualan naik 70,4% menjadi US$477,2 juta, dan produksi CPO naik 34,5% dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan menyebut kenaikan penjualan berasal dari volume yang lebih tinggi, produksi yang lebih besar, pembelian pihak ketiga yang bertambah, dan penurunan persediaan.
Tidak ada penerbit yang kami temukan mengaitkan peristiwa ini dengan perubahan angka Forbes, dan daftar Forbes Desember 2025 terbit sebelum hasil 1Q2026. Ini latar belakang soal perusahaan, bukan penjelasan atas angkanya.
Cukup bisa. Saham yang tercatat bisa dicek lewat laporan keuangan dan harga sahamnya, lebih terang daripada kekayaan yang sepenuhnya privat. Yang tidak bisa dicek adalah cara Forbes menilai aset lain keluarga atau membagi entri "& family" di antara kerabat. Bandingkan dengan Martua Sitorus, yang hartanya juga bersumber dari sawit, atau Sukanto Tanoto, yang kebunnya bagian dari grup lebih luas. Untuk melihat bagaimana harga komoditasnya bergerak, baca siklus harga CPO dan halaman market NetWort.
Angka naik dan peringkat turun bisa terjadi bersamaan. Total daftar Forbes tumbuh dari US$263 miliar ke US$306 miliar, jadi kenaikan 27% pun tetap kehilangan tiga peringkat.
Baca "& family" sebagai angka keluarga. Entri Forbes menghitung kepemilikan keluarga secara bersama, dan tidak patut dikutip sebagai neraca pribadi Ciliandra. Dalam catatan publik yang kami temukan, tidak ada yang menunjukkan hal lain selain kepemilikan saham besar yang diungkapkan secara terbuka di perusahaan tercatat.