Kekayaan Martua Sitorus: US$3,6 Miliar, Padahal Sudah 8 Tahun Tinggalkan Wilmar
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Pertengahan 2025, nama Martua Sitorus tiba-tiba muncul di berita soal kasus korupsi izin ekspor CPO Wilmar Group. KPN Corporation, perusahaan yang menaungi Martua sekarang, langsung buka suara: bosnya sudah mundur dari Wilmar sejak 2013, dan dari kursi komisaris sejak 2018, jauh sebelum kasus itu bergulir. Klarifikasi itu jadi pengingat bagus soal siapa Martua Sitorus sekarang. Kekayaan Martua Sitorus tercatat US$3,6 miliar menurut Forbes Real-Time Net Worth, peringkat #1189 dunia, tapi sebagian besar angka itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Wilmar, perusahaan sawit yang ia dirikan sendiri.
Forbes Real-Time Net Worth (forbes.com/profile/martua-sitorus) mencatat kekayaan Martua di US$3,6 miliar, peringkat #1189 di "Forbes' 2026 Billionaires". Angka dan peringkat yang sama muncul berulang kali, dari banyak situs berbeda yang mengutip halaman Forbes itu di waktu yang berbeda-beda sepanjang 2025 dan 2026, pola yang jarang kami temui di seri ini: kebanyakan tracker berubah tiap minggu, tapi angka Martua bertahan di kisaran sempit US$3,45 miliar sampai US$3,6 miliar selama hampir setahun.
| Sumber yang mengutip Forbes | Tanggal | Angka |
|---|---|---|
| Iconic Billionaires | 4 Mei 2026 | US$3,6 miliar, naik dari US$3,5 miliar |
| Beberapa situs agregator (Celebrity Net Worth, TheRichest, Tatler Asia) | Berbagai tanggal 2025-2026 | US$3,6 miliar, peringkat #1189 dunia |
| Kutipan sebelumnya | November 2024 | US$3,6 miliar |
Tidak ada angka Bloomberg Billionaires Index yang secara spesifik menyebut nama Martua Sitorus dalam penelusuran kami. Daftar orang terkaya Indonesia versi Bloomberg, seperti dikutip Bloomberg Technoz sepanjang 2026, hanya menyebut Sukanto Tanoto, Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong, dan Robert Budi Hartono di antara nama-nama Indonesia yang mereka hitung sendiri, bukan Martua. Kami sebutkan ini apa adanya daripada menebak angka yang belum pernah dipublikasikan Bloomberg.
Martua resmi mundur dari kursi komisaris Wilmar International per 15 Juli 2018, seminggu setelah Greenpeace mengaitkan namanya dengan deforestasi di perkebunan afiliasinya, dan dia sudah lebih dulu melepas jabatan chief operating officer di Wilmar sejak 2013. Tidak ada catatan resmi dan bertanggal soal dia masih memegang saham Wilmar secara langsung yang kami temukan lewat penelusuran ini, jadi kami tidak menyatakan dia masih punya atau sudah tidak punya sama sekali; jawaban jujurnya, ini belum terkonfirmasi.
Kepemilikan publiknya yang jelas ada lewat KPN Corporation (dulu Gama Group), yang dia dirikan bersama adiknya, Ganda Sitorus:
| Perusahaan | Kode saham | Melantai | Dana yang terkumpul menurut Forbes |
|---|---|---|---|
| PT Cemindo Gemilang Tbk (Semen Merah Putih) | CMNT (IDX) | 8 September 2021 | Sekitar US$77 juta |
| PT Murni Sadar Tbk (Rumah Sakit Murni Teguh) | MTMH (IDX) | 2022 | Sekitar US$21 juta |
Dokumen prospektus IPO CMNT tahun 2022 menyebut sekitar 87,37% saham perusahaan semen ini dipegang lewat WH Investments Pte Ltd, perusahaan induk di Singapura yang dikendalikan penuh oleh Martua Sitorus, lewat dua entitas yang seluruhnya miliknya dan satu entitas lagi yang 67% sahamnya dia pegang. Struktur ini sudah berumur beberapa tahun dan mungkin sudah berubah; kami tidak menemukan pembaruan yang lebih baru soal ini. Baik CMNT maupun MTMH tidak masuk daftar ticker kurasi NetWort, jadi tidak ada tautan aset internal di sini. Wilmar sendiri, yang tercatat di Bursa Efek Singapura, juga di luar cakupan daftar itu.
Kasus korupsi terkait izin ekspor crude palm oil (CPO) Wilmar Group, bagian dari skandal korupsi izin ekspor CPO Indonesia yang lebih luas dari 2022, membuat nama Martua ikut disebut-sebut media pada pertengahan 2025. KPN Corporation mengeluarkan klarifikasi resmi, dilaporkan 8 Juli 2025 oleh beberapa media Indonesia, yang menegaskan Martua sudah meninggalkan operasional Wilmar sejak 2013 dan kursi komisarisnya sejak 2018, dan tidak terlibat dalam kasus tersebut.
Kasus itu sendiri berjalan tanpa melibatkan dia. Pada 3 Maret 2026, Pengadilan Tipikor Jakarta memvonis bersalah mantan kepala hukum Wilmar, Muhammad Syafei, karena mengoordinasikan suap US$4 juta bersama dua pengacara kepada hakim pengadilan yang sama untuk memenangkan vonis bebas Wilmar Group, Musim Mas Group, dan Permata Hijau Group dalam kasus izin ekspor yang lebih dulu berjalan. Syafei divonis 6 tahun penjara; kedua pengacaranya masing-masing 14 dan 16 tahun.
Tidak ada kabar duka maupun perkara hukum pribadi lain yang kami temukan untuk Martua Sitorus dalam penelusuran ini. Dia lahir 18 Februari 1960 di Pematang Siantar, Sumatra Utara, dan berusia 66 tahun saat artikel ini ditulis.
Kebanyakan kekayaan yang kami bahas di seri ini bergerak karena satu saham yang tercatat di bursa bergerak. Kekayaan Martua tidak punya pengungkit seperti itu: harga saham Wilmar sudah tidak menyentuh angka kekayaannya sama sekali, sementara CMNT dan MTMH tergolong emiten yang relatif kecil di IDX, bukan jenis saham besar yang biasanya mendominasi perhitungan harian sebuah tracker Real-Time. Ini kemungkinan yang menjelaskan kenapa angka Forbes untuknya begitu datar dan sempit rentangnya selama hampir setahun terakhir.
Ini bisa dibaca dua arah. Angka yang tidak banyak bergerak bisa berarti kekayaannya memang stabil, atau bisa juga berarti struktur kepemilikan privatnya, yang terakhir kali terungkap detail lewat prospektus CMNT 2022, memang jarang dihitung ulang. Tanpa keterbukaan kepemilikan yang lebih baru, tidak ada cara untuk memastikan mana yang lebih mendekati kenyataan dari luar.
Kekayaan seorang taipan dan perusahaan publik yang membawa namanya adalah dua hal yang berbeda begitu dia benar-benar meninggalkannya, dan Martua sudah meninggalkan kursi komisaris Wilmar tujuh tahun lalu. Punya saham di perusahaan publik yang didirikan seseorang bukan berarti kamu ikut punya bagian dari semua yang orang itu miliki sekarang.
Untuk melihat bagaimana seri ini menghitung kekayaan pendiri yang uangnya sudah lama berpindah ke luar perusahaan yang mereka bangun, baca juga: