Kekayaan Eddy Katuari: Sempat Tercoret dari Daftar Forbes 2024, Kembali di $995 Juta pada 2025
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Sabun cuci So Klin, deterjen Daia, sampai Mie Sedaap: kemungkinan besar ada produk Wings di rumahmu. Kekayaan Eddy Katuari, pemilik Wings Group, tercatat $995 juta di daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" dari Forbes (terbit 10 Desember 2025), yang menulis namanya sebagai "Eddy Katuari & family" dengan sumber kekayaan "Manufacturing". Di daftar 2023, Forbes mencatat angkanya $1,03 miliar di peringkat ke-46, lalu di daftar 2024 namanya hilang. Jadi angkanya kembali lebih kecil dari angka yang dulu membuatnya tersingkir. Ketiganya dari Forbes, jadi ini riwayat satu penerbit dari daftar ke daftar, bukan dua tracker yang beda pendapat.
Forbes mencatat keluarga Katuari di tiga daftar tahunan berturut-turut, dan yang tengah adalah kekosongan. Di daftar 2023 (terbit 6 Desember 2023), keluarga ini ada di $1,03 miliar, peringkat ke-46. Di daftar 2024 (terbit 11 Desember 2024), namanya tidak ada: CNN Indonesia, dalam laporan 13 Desember 2024, memasukkannya ke tiga konglomerat yang keluar dari daftar, dan posisi ke-50 tahun itu dipegang Han Arming Hanafia dengan $1,05 miliar, sedikit di atas angka Katuari sebelumnya. Di daftar 2025 (terbit 10 Desember 2025), keluarga ini kembali di $995 juta, di posisi paling bawah. Ringkasan pencarian atas halaman daftar Forbes menyebut peringkat ke-49 dan ke-50 untuk posisi itu, jadi anggap saja ia ada di dua tempat terakhir, bukan peringkat pasti. Forbes melaporkan batas minimum masuk daftar turun jadi $920 juta pada 2025 dari $1,05 miliar pada 2024, dan itu sebabnya angka yang lebih kecil bisa kembali masuk.
| Tanggal | Penerbit | Angka | Konteks |
|---|---|---|---|
| 6 Desember 2023 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2023" | $1,03 miliar | Peringkat ke-46 nasional |
| 11 Desember 2024 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2024" | Tidak masuk daftar | Posisi ke-50 senilai $1,05 miliar, menurut CNN Indonesia |
| 10 Desember 2025 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | $995 juta | Dua posisi terbawah; batas minimum daftar $920 juta |
Angka ini adalah angka keluarga yang dicatat atas namanya, bukan angka pribadi. Forbes menulis entrinya sebagai "Eddy Katuari & family" dan tidak menjelaskan bagaimana total itu terbagi di antara kerabat. Forbes juga punya halaman profil terpisah untuk salah satu pendiri Wings, Harjo Sutanto, jadi angka atas nama Katuari tidak disajikan sebagai nilai seluruh Wings. Pencarian kali ini tidak menemukan angka Bloomberg Billionaires Index yang menyebut namanya.
Wings berawal di Surabaya pada 1948 sebagai produsen sabun cuci murah, didirikan Johannes Ferdinand Katuari bersama Harjo Sutanto, menurut Forbes. Eddy Katuari mengambil alih pabrikan produk rumah tangga itu pada 2004 setelah ayahnya meninggal. Kini Wings membuat sabun, deterjen cuci, pembersih toilet dan pembalut, dan merek mi Mie Sedaap dijual di puluhan negara, menurut Forbes. Wings tidak tercatat di bursa mana pun, jadi tidak ada harga saham untuk mengecek angkanya. Setiap dolar di angka yang dilacak berasal dari valuasi penerbit atas grup tertutup, situasi yang sama dengan Husodo Angkosubroto, yang grup pertanian dan asuransinya juga sepenuhnya tertutup.
Pergerakan yang paling jelas ada di daftarnya, bukan di perusahaannya. Forbes melaporkan total kekayaan 50 orang di daftar Indonesianya naik sekitar 16% pada 2025 menjadi lebih dari $300 miliar, di tengah reli pasar saham, dengan para pendiri pusat data naik ke 10 besar. Dalam dua tahun yang sama, angka keluarga Katuari turun dari $1,03 miliar ke $995 juta, sekitar 3%, tetap di dalam satu seri penerbit yang sama. Bacaan yang paling masuk akal, meski Forbes tidak menyebutnya untuk keluarga ini, adalah grup barang konsumsi tertutup tidak ikut terangkat reli saham seperti pendatang baru. Pada Januari 2024, Bisnis.com melaporkan Wings Group termasuk investor di Konsorsium Nusantara untuk ibu kota baru, dengan janji membangun taman botani nirlaba. Tidak ada sumber yang ditemukan kali ini yang mengaitkan satu peristiwa dengan besaran angka Forbes 2025.
Tidak terlalu, dan kekosongan di 2024 menunjukkan alasannya. Ketika sebuah kekayaan berada tepat di atas batas daftar, perubahan kecil pada valuasi Forbes sendiri, atau pada batasnya, menentukan apakah sebuah nama muncul sama sekali. Absen di 2024 tidak berarti keluarga ini menjadi lebih miskin sebesar angka tertentu, karena Forbes tidak menerbitkan angka apa pun tahun itu. Yang bisa dipegang adalah kisarannya: sekitar $1 miliar, dalam tiga tahun berturut-turut liputan Forbes, dengan satu tahun tanpa angka. Bandingkan dengan Kuncoro Wibowo, yang juga keluar dari daftar Forbes, tapi alasan yang dilaporkan di sana adalah anjloknya saham ritel yang tercatat di bursa, dan dengan Han Arming Hanafia, yang memegang posisi ke-50 di tahun Katuari absen.
Daftar orang terkaya itu ambang batas sama seperti peringkat. Kekayaan di dekat batas bawah bisa muncul, hilang, lalu muncul lagi hanya karena angka dasarnya bergeser sedikit, jadi absennya sebuah nama selama setahun lebih banyak bercerita soal batasnya ketimbang soal orangnya. Kalau kamu baca "X keluar dari daftar," cek dulu apakah penerbitnya menerbitkan angka yang lebih rendah atau tidak menerbitkan angka sama sekali. Halaman market NetWort melacak perusahaan terbuka yang harga sahamnya memang menggerakkan kekayaan setiap hari, kebalikan dari grup tertutup seperti Wings.