Kekayaan Husodo Angkosubroto, Bos di Balik Pisang Sunpride, Naik Jadi $1,5 Miliar Versi Forbes
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kalau kamu pernah beli pisang Sunpride di supermarket, kamu sudah pernah beli produk kerajaan bisnis milik orang ini. Kekayaan Husodo Angkosubroto tercatat $1,5 miliar menurut daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" milik Forbes, terbit 10 Desember 2025, peringkat ke-39 nasional. Setahun sebelumnya, penerbit yang sama, lewat daftar "Indonesia's 50 Richest 2024" yang terbit 11 Desember 2024, menaksirnya $1,28 miliar, peringkat ke-43. Dua-duanya angka Forbes, jadi kenaikan sekitar $220 juta, atau 17%, ini murni pergerakan angka dari satu penerbit yang sama antar dua daftar tahunan, bukan beda pelacak. Catatan Forbes menulis "Husodo Angkosubroto & family," bukan karena angkanya adalah total keluarga tanpa sosok individu di baliknya, tapi karena dia memegang sahamnya di sebuah konglomerasi yang dijalankan bersama tiga saudaranya.
| Tanggal (terbit daftar) | Sumber | Angka | Peringkat |
|---|---|---|---|
| 11 Desember 2024 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2024" | $1,28 miliar | ke-43 |
| 10 Desember 2025 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | $1,5 miliar | ke-39 |
Pencarian untuk tulisan ini, dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, tidak menemukan angka real-time Forbes atau entri Bloomberg Billionaires Index yang menyebut Husodo Angkosubroto secara individu. Jadi daftar 10 Desember 2025 adalah angka bersumber paling akhir yang tersedia, yang berarti sudah lebih dari sembilan bulan lewat saat tulisan ini dibuat. Kami tulis apa adanya, bukan seolah-olah angka setahun lalu ini masih berlaku hari ini.
Husodo Angkosubroto adalah chairman PT Gunung Sewu Kencana, konglomerasi yang dirintis ayahnya, Go Soei Kie (juga dikenal sebagai Dasuki Angkosubroto), sebagai perusahaan dagang komoditas pada 1953. Saat sang pendiri wafat pada 2009, grup ini diwariskan ke Husodo dan tiga saudaranya, sebuah suksesi empat bersaudara. Bisnis pangan terbesar Gunung Sewu adalah PT Great Giant Pineapple, yang mengolah lebih dari 500.000 ton nanas per tahun dari perkebunan di Lampung dan Jawa Timur serta mengekspor nanas kaleng ke lebih dari 60 negara, ditambah lini yang lebih baru seperti jus dingin Re.Juve dan pisang Cavendish yang dipasarkan lewat anak usahanya, PT Sewu Segar Nusantara, di bawah merek Sunpride, salah satu merek buah paling dikenal di rak supermarket Indonesia. Di sisi asuransi, Husodo menjabat presiden komisaris Asuransi Jiwa Sequis Life, tempat Gunung Sewu melepas 20% sahamnya ke Nippon Life dari Jepang pada 2014 sambil tetap memegang kendali mayoritas. Great Giant Pineapple, Sequis, maupun entitas induk Gunung Sewu tidak ada yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, dan tidak satu pun masuk daftar ticker kurasi NetWort, dicek pada penulisan ini, jadi tidak ada yang ditautkan lewat kode saham di sini.
Laporan Forbes sendiri soal daftar 2025 (Jane Ho, 10 Desember 2025) menyebut kenaikan gabungan 16% kekayaan 50 orang terkaya Indonesia didorong oleh reli pasar saham Indonesia secara umum dan sejumlah miliarder terkait pusat data yang naik ke posisi 10 besar. Kekayaan Husodo Angkosubroto, sebaliknya, ada di bisnis pertanian dan asuransi yang tidak tercatat di bursa dan tidak punya harga saham harian, jadi mekanisme spesifik itu tidak jelas menjelaskan kenaikan $220 juta miliknya sendiri. Forbes tidak menerbitkan rincian per orang soal bagaimana mereka sampai pada tiap angka di daftar itu, dan tidak ada sumber lain bernama yang ditemukan dalam penulisan ini yang mengaitkan kenaikan ini dengan peristiwa tertentu. Jadi tulisan ini menyajikan dua angka bertanggal itu tanpa menebak-nebak sebabnya.
Lebih sulit dipastikan dibanding kekayaan yang bersandar pada saham yang tercatat di bursa. Gunung Sewu, Great Giant Pineapple, dan Sequis Life semuanya berada di luar pasar publik, jadi tidak ada harga penutupan harian yang bisa dijadikan acuan pelacak dan tidak ada laporan keuangan berkala yang membuka berapa persis porsi Husodo dari grup ini. Penerbit yang menaksir kekayaan ini harus memperkirakan nilai sebuah konglomerasi privat yang beragam lewat kelipatan perusahaan sejenis yang tercatat di bursa, transaksi yang terbuka seperti penjualan saham ke Nippon Life, dan asumsi soal bagaimana kepemilikan empat bersaudara ini terbagi, dengan keputusan yang penuh pertimbangan di tiap langkahnya. Ini masalah struktural yang sama yang ditemukan seri ini di Royal Golden Eagle milik Sukanto Tanoto, tempat ketiadaan harga saham publiklah, bukan beda fakta, yang membuat angka dari pelacak berbeda sulit disamakan.
Satu angka Forbes yang bergerak dari tahun ke tahun untuk kekayaan yang sepenuhnya privat memberi tahu kamu lebih sedikit dibanding pergerakan serupa untuk kekayaan yang tercatat di bursa, karena tidak ada harga publik yang bisa kamu cek di antara dua titik itu. Dua hal lain yang perlu kamu ingat: pertama, tulisan "& family" di judul Forbes tidak selalu berarti tidak ada sosok individu di balik angkanya, seperti kasus ini; kedua, suksesi empat bersaudara seperti ini bukan hal langka di kekayaan konglomerasi Indonesia. Untuk struktur serupa di seri ini, baca juga:
Halaman market NetWort memantau harga harian perusahaan-perusahaan tercatat yang dibahas seri ini di tempat lain, jenis penilaian publik yang justru tidak dimiliki konglomerasi privat seperti Gunung Sewu.