Minggu lalu kamu mungkin sudah baca soal Mukesh Ambani di seri ini. Nah, orang yang berkali-kali gantian jadi orang terkaya di Asia dengan Ambani sepanjang 2026 adalah Gautam Adani, taipan infrastruktur India di balik Adani Group. Menurut Forbes Real-Time Billionaires per 5 Juni 2026, kekayaan Gautam Adani tercatat $89,2 miliar, membuatnya jadi orang terkaya di Asia hari itu, mengungguli Ambani ($88 miliar) dan bos SoftBank Masayoshi Son ($87 miliar). Tiga bulan sebelumnya, daftar tahunan Forbes World's Billionaires (per 1 Maret 2026, terbit 10 Maret) cuma menempatkannya di $63,8 miliar, peringkat ke-31 dunia. Dua-duanya angka Forbes, jadi kenaikan sekitar 40% ini beneran satu pelacak yang sama, bukan beda metodologi. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan mundurnya pemerintah AS dari kasus pidana suap yang membayangi konglomerasinya sejak November 2024.
Angkanya, dan siapa yang bilang
Artikel Forbes "The 10 Richest Indian Billionaires 2026" oleh Naazneen Karmali, dengan penilaian per 1 Maret 2026 dan terbit 10 Maret 2026, menempatkan Gautam Adani di $63,8 miliar, peringkat ke-31 di World's Billionaires List tahun itu. Per 5 Juni 2026, pelacak Forbes Real-Time Billionaires (Tyler Roush) mencatatnya di $89,2 miliar, naik $2 miliar dalam sehari saja, cukup untuk melewati Ambani maupun Son dan merebut kembali gelar orang terkaya di Asia. Dua-duanya angka Forbes, jadi ini perbandingan yang sah di dalam satu pelacak yang sama dalam rentang tiga bulan.
Terpisah, dan sengaja tidak dicampur ke garis waktu itu, Bloomberg Billionaires Index menaksirnya $92,6 miliar pada 17 April 2026, peringkat ke-19 dunia, juga menyebutnya unggul atas Ambani ($90,8 miliar) minggu itu. Forbes dan Bloomberg bisa beda beberapa miliar dolar bahkan ketika dua-duanya sepakat soal headline yang sama: Adani unggul atas Ambani.
Tanggal
Sumber
Angka
Keterangan
1 Maret 2026 (terbit 10 Maret)
Forbes World's Billionaires List
$63,8 miliar
Peringkat ke-31 dunia
17 April 2026
Bloomberg Billionaires Index
$92,6 miliar
Peringkat ke-19 dunia, unggul atas Ambani
5 Juni 2026
Forbes Real-Time Billionaires
$89,2 miliar
Terkaya di Asia, unggul atas Ambani dan Son
Sumber kekayaannya
Adani Group adalah konglomerasi infrastruktur yang beragam: pelabuhan dan logistik (Adani Ports and Special Economic Zone), pembangkit listrik, transmisi, dan energi hijau (Adani Power, Adani Green Energy, Adani Energy Solutions, Adani Total Gas), semen (Ambuja Cement dan ACC), serta Adani Enterprises, unit inkubator grup yang juga menaungi bisnis bandara. Semuanya tercatat di bursa NSE dan BSE India, tidak ada yang tercatat di bursa AS.
Beda dengan banyak kekayaan privat di seri ini, sebagian besar taksiran ini adalah kelipatan langsung dari kepemilikan saham promoter yang sudah diumumkan ke publik. Menurut laporan kepemilikan saham SEBI yang dikutip Trendlyne dan Scanx, kelompok promoter keluarga Adani memegang 74,67% Adani Enterprises (Maret 2026), 74,96% Adani Power (Juni 2026), 74,29% Adani Energy Solutions (Juni 2026), 74,80% Adani Total Gas (Maret 2026), dan 68,02% Adani Ports (tahun fiskal 2026). Konsentrasi kepemilikannya tinggi dan konsisten di semua unit yang tercatat di bursa. ADANIENT, ADANIPORTS, ADANIPOWER, ADANIGREEN, dan ATGL dipastikan tidak ada di daftar ticker kurasi NetWort (frontend/scripts/curated-tickers.mjs, backend/app/services/asset_symbol_service.py), jadi di sini hanya disebut kodenya saja tanpa tautan.
Yang bikin kekayaannya bergerak belakangan ini
Dua hal bergerak beriringan tahun ini: kasus hukumnya, dan sahamnya.
Di sisi hukum, Gautam Adani sepakat pada 14 Mei 2026 membayar denda $6 juta (keponakannya, Sagar Adani, $12 juta) untuk menyelesaikan tuduhan perdata SEC soal keterbukaan informasi Adani Green Energy di pasar AS, tanpa mengakui atau membantah tuduhan itu, menurut Bloomberg dan CNBC. Pada 10 Agustus 2026, Hakim Distrik AS Nicholas Garaufis membatalkan dakwaan pidana terhadap Gautam Adani, Sagar Adani, dan Vneet Jaain "dengan prasangka" (with prejudice, artinya tidak bisa diajukan ulang), menyusul permohonan Departemen Kehakiman AS (DOJ) untuk menghentikan kasus ini, sambil menyebut kejanggalan dalam cara DOJ menangani permohonan itu sebagai "mengkhawatirkan," menurut Bloomberg dan CNBC.
Di sisi bisnis, kapitalisasi pasar gabungan Adani Group mendekati Rs 20 lakh crore pada akhir Mei 2026, naik sekitar Rs 5 lakh crore sepanjang tahun berjalan, menurut IANS, yang mengaitkannya dengan kinerja laba yang stabil dan sentimen investor yang membaik. Lebih baru lagi, pada 9 September 2026, Adani Enterprises menjual 5,54% saham unit bandaranya, Adani Airport Holdings, senilai sekitar $1 miliar (Rs 9.825 crore) ke konsorsium yang mencakup Temasek, dana kelolaan BlackRock, Alpha Wave Global, dan Premji Invest, menilai bisnis bandara itu sekitar $18 miliar, menurut Business Standard dan Bloomberg. Saham Adani Enterprises naik 6,08% hari itu ke Rs 3.132,90, jadi saham dengan kinerja terbaik di Nifty 50 sepanjang 2026.
Seberapa bisa dipercaya angka ini
Sebagian besar kekayaan Adani ada di saham yang tercatat penuh di bursa dan kepemilikannya diumumkan, salah satu struktur paling transparan yang pernah diprofilkan seri ini. Tapi angka Forbes sendiri masih bergerak sekitar 40% dalam tiga bulan, dan angka Bloomberg yang sezaman beda beberapa miliar dolar dari Forbes meski dua-duanya sepakat soal headline yang sama. Sebagian selisih itu wajar, sekadar volatilitas harga saham grup sehari-hari. Tapi sebagian lagi benar-benar terkait kasus hukum di AS, yang selesainya tidak rapi: tertutup dengan prasangka untuk sang taipan secara pribadi, selesai lewat penyelesaian damai untuk keponakannya, tapi masih terbuka dan diperdebatkan untuk lima terdakwa lain yang lebih junior dari dakwaan yang sama. Harga saham yang diumumkan tiap hari itu transparan karena strukturnya. Tapi kasus pidana yang selesainya beda-beda untuk tiap terdakwa menunjukkan sebuah kekayaan bisa terdokumentasi dengan baik sekaligus belum benar-benar tuntas di saat bersamaan.
Apa artinya buat kamu
Kekayaan Adani jadi contoh paling jelas di seri ini soal bagaimana bayang-bayang kasus hukum, bukan laporan laba atau pergerakan satu saham, yang mendorong taksiran sebuah pelacak berubah. Untuk kekayaan dan mekanisme terkait, baca juga:
Profil Mukesh Ambani, rival yang berkali-kali gantian posisi orang terkaya di Asia dengan Adani di musim Forbes dan Bloomberg yang sama, kini sudah diprofilkan seri ini dari dua sisi.
Profil Michael Dell, kekayaan lain yang nyaris seluruhnya dibangun dari saham publik yang diumumkan penuh, tapi Forbes dan Bloomberg tetap beda sampai miliaran dolar.
Profil Zhong Shanshan, selisih Forbes-lawan-Bloomberg di periode yang sama yang sengaja tidak pernah kami campur jadi satu garis waktu.
Halaman makro NetWort memantau konteks pasar yang lebih luas kalau kamu mau lihat pergerakan saham pasar berkembang hari ini.