Kekayaan Bambang Sutantio: US$1,8 Miliar Versi Forbes September 2026, Turun dari US$2,35 Miliar di Daftar Desember 2025, Padahal Laba Cimory Naik
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kekayaan Bambang Sutantio tercatat sekitar US$1,8 miliar di data real-time Forbes pada pertengahan September 2026, menurut Fortune Indonesia. Di daftar Indonesia's 50 Richest 2025 versi Forbes, pendiri Cimory ini ada di peringkat 34 dengan US$2,35 miliar. Di periode yang sama, Cimory melaporkan laba bersih semester I 2026 naik sekitar 18% dan pendapatan naik sekitar 25%.
Bambang mendirikan Cimory dan menjabat komisaris utama PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (BEI: CMRY). Hampir semua angka yang dicatat tracker untuk kekayaannya bermuara di satu saham tercatat.
| Penerbit | Seri | Angka | Peringkat di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2022 (lewat Bisnis.com) | Daftar tahunan | US$1,85 miliar | 24 |
| Forbes, Real-Time Billionaires, 10 Januari 2024 (lewat media Indonesia) | Real-time | US$1,7 miliar | belum terkonfirmasi |
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2025, Desember 2025 (lewat Metro TV dan Olenka) | Daftar tahunan | US$2,35 miliar | 34 |
| Forbes, World's Billionaires 2026, Maret 2026 (lewat Fortune Indonesia) | Daftar tahunan | US$2,1 miliar | tidak disebut |
| Forbes, real-time, pertengahan September 2026 (lewat Fortune Indonesia) | Real-time | sekitar US$1,8 miliar (Rp31,8 triliun, kurs Rp17.694 per dolar) | tidak disebut |
Semua baris adalah Forbes, jadi perbandingannya tetap dalam satu penerbit. Tapi ini campuran daftar tahunan dan bacaan real-time di hari yang berbeda, jadi penurunan dari US$2,35 miliar ke US$1,8 miliar sebaiknya kamu baca sebagai arah, bukan pengukuran presisi. Kontan pernah menempatkannya di peringkat 27 dengan sekitar US$2 miliar, yang tidak cocok dengan daftar Forbes di atas, jadi tidak kami pakai. MarketScreener menampilkan angka sekitar US$1,06 miliar bertanggal 29 Juni 2026 tanpa metode yang jelas, dan kami tidak memakainya.
Kami tidak menemukan angka Bloomberg Billionaires Index untuk Bambang, jadi satu-satunya perbedaan yang bisa ditampilkan adalah Forbes dengan dirinya sendiri.
Jangkarnya adalah Cisarua Mountain Dairy (CMRY). Fortune Indonesia melaporkan ia memegang sekitar 4,25 miliar saham, atau 53,56%, per 31 Desember 2025, sehingga ia pemegang saham pengendali. Kepemilikan yang tercatat di laporan seperti ini termasuk bagian yang paling bisa dicek dari kekayaan konglomerat Indonesia.
CMRY rajin membagi dividen. RUPS April 2026 menyetujui total dividen tunai Rp1,59 triliun, 78,06% dari laba bersih 2025 sebesar Rp2,03 triliun (BCA Sekuritas, Liputan6). Dividen interim Rp100 per saham, total sekitar Rp793 miliar, dijadwalkan dibayar 18 September 2026 (Bisnis.com, 26 Agustus 2026). Penerbit yang kami temukan tidak menjelaskan bagaimana Forbes memperlakukan dividen dalam hitungannya.
CMRY tidak ada di daftar ticker pilihan NetWort, jadi kami tidak menautkan halaman harganya. Untuk melihat kekayaan konsumer lain yang bertumpu pada saham tercatat, baca profil Jogi Hendra Atmadja dan Eddy Katuari.
Cimory melaporkan laba bersih semester I 2026 sebesar Rp1,17 triliun, naik 17,89% dari Rp993,88 miliar, dengan pendapatan Rp6,50 triliun, naik 25,49%, dan segmen dairy tumbuh 54% (Investortrust dan Kontan, Agustus 2026; Bisnis.com menulis pendapatan Rp6,46 triliun). Pendapatan kuartal I Rp3,16 triliun, naik 27,87%.
Harga sahamnya bercerita lain. Pada 7 Mei 2026 CMRY ditutup di Rp4.950, masih turun 12,39% sejak awal tahun (Kontan). Analis yang dikutip Kontan menyebut kenaikan biaya bahan baku dan kemasan sebagai tekanan bagi pertumbuhan laba.
Laba yang kuat berdampingan dengan kekayaan tercatat yang turun mengingatkan bahwa tracker mengikuti harga saham, bukan laporan laba rugi. Tidak ada penerbit yang kami temukan menjelaskan mengapa angka Forbes untuknya turun, dan kami tidak menghubungkan keduanya.
Cukup bisa, untuk kekayaan pendiri. Satu perusahaan tercatat, satu kepemilikan yang dilaporkan, laporan keuangan terbuka. Pertanyaan yang tersisa adalah tanggal harga saham yang dipakai tiap tracker, dan apakah ada kepemilikan di luar CMRY, yang tidak dijelaskan sumber yang kami temukan. Bandingkan dengan Hermanto Tanoko, yang kekayaannya juga bertumpu pada satu grup tercatat.
Perusahaan yang tumbuh belum tentu kekayaan yang naik. Kekayaan pendiri di tracker bergerak mengikuti harga saham di hari tracker melihatnya, jadi laba bisa naik sementara angkanya turun.
Satu penerbit bisa berbeda dari dirinya sendiri. Daftar tahunan Forbes dan bacaan real-time-nya adalah pengukuran terpisah. Dalam catatan publik yang kami temukan, tidak ada yang menunjukkan hal lain selain kepemilikan saham yang diungkapkan secara terbuka dan hasil perusahaan yang dipublikasikan.