Kekayaan Haryanto Tjiptodihardjo: Versi Forbes US$1,3 Miliar, lalu US$9 Miliar, lalu US$5 Miliar dalam 17 Bulan
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Bos genteng polimer Impack Pratama (IMPC) ini sempat masuk tujuh besar orang terkaya Indonesia, lalu turun lagi. Kekayaan Haryanto Tjiptodihardjo tercatat sekitar US$5 miliar di peringkat Forbes Mei 2026, urutan ke-10 di Indonesia. Lima bulan sebelumnya, Forbes menaruhnya di US$9 miliar, dan setahun sebelum itu hanya US$1,3 miliar. Semua angka ini dari Forbes, jadi ayunannya nyata dalam satu tracker yang sama.
Haryanto, 63 tahun, adalah direktur utama PT Impack Pratama Industri Tbk (IDX: IMPC), produsen atap dan bahan bangunan berbasis polimer terbesar di Indonesia, yang didirikan ayahnya, Handojo, pada 1981. Hampir seluruh angka di bawah ini bergantung pada satu harga saham.
| Ukuran Forbes | Tanggal | Angka | Peringkat di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Indonesia's 50 Richest 2024 (dikutip VOI) | Desember 2024 | US$1,3 miliar | 49 |
| Indonesia's 50 Richest 2025 | Desember 2025 | US$6,2 miliar | 11 |
| Real-Time Billionaires (VOI) | 30 Desember 2025 | US$8,9 miliar | 11 (ke-373 dunia) |
| Real-Time Billionaires (Katadata, Fortune IDN) | Januari 2026 | US$9 miliar | 7 |
| Real-Time Billionaires (CNBC Indonesia, Jawa Pos) | Mei 2026 | US$5 miliar | 10 |
Semua baris adalah Forbes, tetapi isinya campuran potret daftar tahunan dan angka real-time, jadi yang penting adalah besarnya ayunan, bukan selisih persis antar baris. Halaman Bloomberg Billionaires Index Indonesia juga mencantumkannya, tetapi angka yang bisa kami ambil tidak bertanggal, jadi tidak kami pakai.
Angkanya adalah saham Impack Pratama. Bloomberg Technoz, mengutip keterbukaan pemegang saham November 2025 dan laporan tahunan 2024, menyebut ia memegang sekitar 85% perusahaan, langsung, lewat PT Harimas Tunggal Perkasa dan PT Tunggal Jaya Investama, serta bersama putranya, Phillip Tjipto. Perusahaan punya pabrik di Malaysia, Vietnam, Australia, dan Selandia Baru, dengan pendapatan 2024 sebesar Rp3,9 triliun.
Konsentrasi itu yang membuat angkanya bergerak seperti sekarang. Pada perusahaan tercatat dengan pemegang saham pengendali sebesar itu, kekayaan bergerak nyaris satu banding satu dengan harga saham.
Menurut VOI, IMPC membuka 2025 di sekitar Rp358, datar sampai Juli, melonjak sejak Agustus, dan ditutup 30 Desember 2025 di Rp3.930, naik 997,77% sepanjang tahun. Itulah gerakan di balik lompatan dari US$1,3 miliar ke US$8,9 miliar.
Baliknya terlihat di laporan transaksi. Pasardana memberitakan pada 22 Juni 2026 bahwa Harimas Tunggal Perkasa membeli saham IMPC di harga Rp1.640 dan Rp1.645 per saham. Itu kurang dari separuh harga penutupan Desember. Di periode yang sama bisnisnya justru tumbuh: Bisnis.com dan Metro TV melaporkan pada 31 Juli 2026 bahwa laba bersih semester I 2026 naik 51% menjadi Rp447 miliar, pendapatan naik 29,7% menjadi Rp2,5 triliun, dan manajemen menaikkan target laba bersih 2026 menjadi di atas Rp800 miliar.
Jadi laba perusahaan naik sementara saham, dan kekayaan yang dihitung darinya, turun. Tidak ada penerbit yang kami temukan menjelaskan pergerakan harga sahamnya, dan kami tidak menawarkan penjelasan sendiri.
Lebih terang daripada kebanyakan, dengan satu catatan. Saham yang dipegang dan harganya terbuka, jadi hitungannya bisa dicek. Yang tidak bisa dicek adalah waktunya: angka real-time Forbes dihitung ulang tiap hari, jadi angka dari satu tanggal bisa jauh dari nilai hari ini. Bandingkan dengan Otto Toto Sugiri, yang angka Forbes-nya juga turun padahal bisnisnya terus tumbuh, atau Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, pendiri lain yang hartanya ada di satu perusahaan tercatat. Untuk harga saham tercatat, buka halaman market.
Kekayaan yang terikat satu saham adalah harga, bukan saldo. Angka Forbes untuknya bergerak dari US$1,3 miliar ke US$9 miliar ke US$5 miliar, sementara perusahaannya terus tumbuh.
Selalu baca tanggal di samping angkanya. Kalau kamu mencari hari ini, hasilnya US$6,2 miliar, US$8,9 miliar, US$9 miliar, dan US$5 miliar, semuanya dari Forbes dan semuanya benar pada harinya masing-masing.