Kekayaan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono: US$4,9 Miliar, Usia 97 Tahun, Masih Jadi Bos
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Di usia 97 tahun, kebanyakan orang sudah lama pensiun. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono masih memegang kursi komisaris utama di tiga perusahaan sekaligus, dari tambang nikel di Pulau Obi sampai kebun sawit di Kalimantan. Kekayaan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono tercatat US$4,9 miliar menurut daftar tahunan Forbes "Indonesia's 50 Richest 2025" yang terbit 10 Desember 2025, menempatkannya di peringkat 14 nasional.
Angka yang kami pakai sebagai fakta di artikel ini adalah milik Forbes: US$4,9 miliar, per 10 Desember 2025, peringkat 14 orang terkaya di Indonesia.
Tracker lain, WealthRank, mencatat kekayaan Lim di US$4,4 miliar per 1 Agustus 2026, peringkat 9 nasional dan 952 dunia. WealthRank bukan Forbes, pakai metodologi sendiri, dan snapshot-nya delapan bulan setelah daftar Forbes terbit. Dua angka ini kami tampilkan apa adanya, masing-masing versi sumbernya, bukan sebagai "naik" atau "turun" dari waktu ke waktu. Membandingkan angka Forbes dengan angka tracker lain lalu bilang itu perubahan kekayaan adalah kesalahan, karena keduanya memang menghitung dengan cara berbeda.
Kekayaan Lim tersebar di tiga bisnis, menurut profil Forbes atasnya:
| Perusahaan | Sektor | Bursa | Kepemilikan keluarga Lim |
|---|---|---|---|
Trimegah Bangun Persada (Harita Nickel, NCKL) | Tambang dan pengolahan nikel | IDX, IPO 2023 | Mayoritas pengendali, lewat Harita Group |
| Cita Mineral Investindo | Tambang bauksit | IDX | Mayoritas |
| Bumitama Agri | Perkebunan sawit | SGX (Singapura) | Mayoritas |
Trimegah Bangun Persada, yang dikenal sebagai Harita Nickel, mengoperasikan tambang nikel laterit dan smelter di Pulau Obi, Maluku Utara, dan meraup US$650 juta lewat IPO 2023, menurut Forbes. Cita Mineral Investindo, unit bauksit grup ini, juga tercatat di Bursa Efek Indonesia. Bumitama Agri, produsen sawit dengan kebun di Kalimantan, tercatat di bursa Singapura; Forbes menyebut kepemilikan keluarga ini sebagai "mayoritas" tanpa menyebutkan persentase pasti terkini, dan kami tidak mengarang angka itu sendiri.
NCKL maupun Cita Mineral Investindo belum masuk daftar ticker kurasi NetWort per tulisan ini, dan Bumitama Agri tercatat di bursa Singapura yang di luar cakupan daftar itu, jadi ketiganya tidak kami tautkan ke halaman aset.
Nikel adalah kaki komoditas yang lebih bergejolak dari dua bisnis Lim, dan 2026 jadi tahun yang ramai buatnya. Pemerintah memangkas kuota produksi tambang (RKAB) 2026, dan harga nikel dunia naik 17,27% ke US$18.643 per ton pada Januari 2026, menurut pemberitaan Katadata dan CNBC Indonesia saat itu. Saham Trimegah Bangun Persada sendiri mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di Rp1.595 pada 24 Februari 2026, dan pada 3 Agustus 2026 sahamnya melompat 5,59% ke Rp945 di hari pertama masuk indeks LQ45 dan IDX80, keduanya dilaporkan Kontan.
Bisnis intinya pun ikut tumbuh: laba bersih Trimegah Bangun Persada yang bisa diatribusikan ke pemilik naik 41,7% secara tahunan pada semester I 2026, dari Rp4,10 triliun menjadi Rp5,81 triliun, dengan pendapatan naik 21,3% menjadi Rp17,10 triliun, menurut pemberitaan Katadata atas hasil keuangan perusahaan.
Tiga struktur kepemilikan terpisah, di dua bursa saham, plus satu lapisan swasta di atasnya, membuat kekayaan ini termasuk yang paling sulit dipastikan dalam seri ini. Forbes dan WealthRank beda sekitar setengah miliar dolar di tanggal yang berbeda, selisih yang sebenarnya tergolong kecil dibanding standar seri ini, tapi penyebabnya sama dengan kasus-kasus lain yang selisihnya jauh lebih lebar: belum ada pihak di luar keluarga yang mempublikasikan rantai kepemilikan lengkap dari Lim secara pribadi ke masing-masing perusahaan operasional.
Ada juga sisi regenerasi yang menarik. Anaknya, Lim Gunawan Hariyanto, sudah menjabat CEO Bumitama Agri sejak perusahaan itu berdiri pada 1998, dan sekarang juga memegang operasional harian Harita Group, menurut halaman kepemimpinan Bumitama Agri sendiri dan Wikipedia. Alih kendali operasional saat sang pendiri berusia 97 tahun masih menyandang gelar komisaris utama adalah pola yang berbeda dari kebanyakan kisah regenerasi di seri ini, yang biasanya muncul setelah pendirinya wafat, bukan berjalan berdampingan dengan hidupnya.
Satu catatan lagi demi kelengkapan, tanpa menyiratkan kesalahan apa pun dari Lim Hariyanto secara pribadi: investigasi OCCRP yang terbit 30 April 2025 bersama Gecko Project, The Guardian, Deutsche Welle, dan KCIJ Newstapa melaporkan bahwa pemantauan air internal Harita di operasi nikel Pulau Obi sendiri sudah mencatat kontaminasi kromium-6 sejak 2012. Terpisah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Stevi Thomas, direktur hubungan eksternal Harita Nickel, sebagai tersangka pada Desember 2023 dalam kasus suap terkait izin jalan era mantan Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba; Pengadilan Tipikor Ternate memvonis Thomas 1 tahun 10 bulan penjara pada 16 Mei 2024, perkara yang kini sudah berkekuatan hukum tetap dan berusia lebih dari dua tahun. Tidak ada satu pun dari dua laporan ini yang menyebut nama Lim Hariyanto secara pribadi, dan kami tidak menemukan tuduhan, penyelidikan, atau perkara apa pun yang menyasar dirinya sendiri untuk artikel ini.
Pendiri berusia 97 tahun yang masih memegang saham pengendali di tiga perusahaan sekaligus adalah pengingat bahwa "kekayaan bersih" itu gambaran sesaat dari sebuah struktur kepemilikan, bukan satu angka saldo rekening, dan struktur itu bisa terus memicu selisih antar tracker karena alasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kesehatan atau niat sang pendiri. Kalau kamu memegang aset terkonsentrasi lewat beberapa entitas dalam portofolio kamu sendiri, pelajarannya sama di skala berapa pun: harga satu saham jarang menceritakan seluruh nilai kepemilikan kamu, dan perusahaan induk keluarga yang berdiri di atasnya menambah satu pertanyaan penilaian nyata yang bahkan Forbes dan WealthRank pun menjawabnya berbeda.
Untuk melihat bagaimana tracker lain menyusun estimasi serupa, dan bagaimana posisi nikel dalam rantai pasok kendaraan listrik yang terus muncul di seri ini, baca juga profil dua kekayaan sumber daya alam Indonesia lainnya di bawah ini.