Kekayaan Hermanto Tanoko: Bos di Balik Cat Avian yang Kekayaan Keluarganya Tembus Rp128 Triliun
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kalau kamu pernah mengecat rumah pakai cat Avian, kemungkinan besar kamu tidak tahu siapa pemiliknya. Padahal keluarga di baliknya, Hermanto Tanoko dan kakaknya Wijono, sekarang masuk 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Kekayaan Hermanto Tanoko, bersama sang kakak Wijono, tercatat $8,1 miliar (sekitar Rp128 triliun) per daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" dari Forbes, dipublikasikan 10 Desember 2025, menempatkan keluarga ini di peringkat ke-9 orang terkaya Indonesia. Hermanto adalah sosok yang lebih sering tampil di publik: dia menjabat Presiden Komisaris Avia Avian, perusahaan cat yang didirikan ayah mereka pada 1978, sambil membangun kerajaan bisnisnya sendiri, Tancorp, di bisnis air minum, bata ringan, dan properti.
| Sumber | Waktu | Angka | Catatan |
|---|---|---|---|
| Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | 10 Desember 2025 | $8,1 miliar | Total keluarga, "Wijono & Hermanto Tanoko & family," peringkat 9 Indonesia |
Daftar tahunan Forbes ini satu-satunya angka yang kami anggap bisa dipakai di artikel ini, karena tanggalnya jelas dan metodenya disebut nama. Forbes juga punya profil real-time terpisah khusus untuk Hermanto Tanoko secara pribadi, dan beberapa media Indonesia yang mengutip data itu melaporkan angka yang jauh berbeda-beda sepanjang 2025 sampai 2026: sekitar $2,1 miliar pada Desember 2024, sekitar $7 miliar per 30 September 2025, $4,2 miliar per 18 Oktober 2025, naik lagi jadi $6,1 miliar awal November 2025, lalu turun ke sekitar $3,8 miliar per 16 Februari 2026. Lompatan-lompatan itu terlalu besar dan terlalu cepat, bahkan kadang berbalik arah hanya dalam tiga minggu, untuk bisa dicocokkan tanpa data asli dari Forbes untuk tiap tanggalnya. Karena itu, tidak satu pun angka individu tersebut kami pakai sebagai fakta di sini. Kami juga tidak menemukan angka dari Bloomberg Billionaires Index yang menyebut nama salah satu dari kedua bersaudara ini.
Inti kekayaannya ada di Avia Avian (AVIA di Bursa Efek Indonesia), produsen cat dekoratif dengan pangsa pasar domestik sekitar seperempat, didirikan ayah mereka Soetikno Tanoko pada 1978 dan dibawa ke bursa oleh kedua bersaudara ini pada 2021. Hermanto menjabat Presiden Komisaris; Wijono adalah anggota keluarga pengendali lainnya.
Di luar Avia Avian, Hermanto membangun portofolio lain yang lebih luas lewat Tancorp Group:
CLEO), produsen air minum dalam kemasan. Tancorp Global Abadi, kendaraan bisnis milik Tancorp, mengendalikan 56,12% saham CLEO, berdasarkan keterbukaan informasi ke BEI yang dikutip Bisnis.com dan Liputan6 pada Juni 2026. Hermanto juga punya saham langsung dalam jumlah lebih kecil, yang bertambah jadi 243,71 juta lembar (1,01% hak suara) setelah dia membeli 51,7 juta lembar tambahan senilai sekitar Rp19,6 miliar pada akhir Juni 2026, naik dari 192.012.158 lembar (0,80%) sebelumnya, menurut laporan yang sama.RISE), pengembang properti dan hospitality.Artinya, kekayaan keluarga ini tersebar di setidaknya empat perusahaan terbuka yang terpisah, ditambah unit-unit Tancorp yang sepenuhnya privat, struktur yang lebih mirip sebaran multi-perusahaan di balik Grup Mayapada milik Tahir ketimbang kekayaan yang bertumpu pada satu saham saja.
Kinerja Avia Avian sendiri terus tumbuh sepanjang 2026: laba bersih semester I 2026 mencapai Rp938,42 miliar, naik 20,59% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp778,20 miliar, dengan penjualan bersih Rp4,59 triliun, naik 18,19% secara tahunan, menurut Kontan dan Bisnis.com yang sama-sama melaporkannya pada 18 Agustus 2026. Meski begitu, harga sahamnya masih jauh dari puncaknya: kisaran 52 minggu ada di Rp288 sampai Rp530, dan harganya Rp356 per 19 Agustus 2026, menurut Investing.com.
Bagian lain dari portofolionya bergerak jauh lebih liar, meski tidak ada sumber yang mengaitkannya langsung dengan angka kekayaan keluarga versi Forbes. Saham Tanrise Property (RISE) sempat melonjak sampai 1.092% secara year-to-date per 26 November 2025, menurut Kabarbursa dan IDX Channel, sebelum kemudian anjlok dari harga tertinggi Rp7.725 ke Rp835, menurut Kabarbursa. Ini mengingatkan bahwa bagian yang lebih kecil dan tipis diperdagangkan dari sebuah konglomerasi bisa bergerak jauh lebih liar dibanding bisnis utamanya, tanpa harus ikut menggerakkan angka kekayaan keluarga yang tercatat.
Lebih sulit dipastikan dibanding kebanyakan kekayaan lain dalam seri ini, dan bukan karena perusahaannya privat. Avia Avian, CLEO, dan RISE semuanya tercatat di BEI dan wajib membuka informasi, tapi kekayaan keluarga ini terbagi di semua perusahaan itu ditambah unit-unit privat Tancorp. Riset untuk artikel ini juga menemukan bahwa sumber-sumber sekunder yang melacak angka real-time milik Hermanto Tanoko secara pribadi jauh lebih tidak konsisten dari biasanya, kadang selisih miliaran dolar hanya dalam beberapa minggu, kehati-hatian yang pernah kami sampaikan juga soal angka Otto Toto Sugiri di DCI Indonesia. AVIA, CLEO, maupun RISE tidak ada dalam daftar ticker kurasi NetWort sendiri, jadi tidak ada satu pun yang kami tautkan langsung dari artikel ini.
Kaleng cat Avian ada di toko bangunan di seluruh Indonesia, dibeli pemilik rumah yang mungkin tidak pernah menghubungkan merek itu dengan nama di daftar orang terkaya, pola "tersembunyi di depan mata" yang sama seperti yang sudah kami temukan di Alfamart milik Djoko Susanto. Pelajaran yang lebih tajam di sini soal cara melacak angka: kalau sebuah kekayaan tersebar di beberapa perusahaan terbuka sekaligus, bukan cuma satu, angka "kekayaan bersih" yang beredar ulang bisa saja ikut naik-turun mengikuti perusahaan mana pun yang kebetulan bergerak liar minggu itu. Itu sebabnya artikel ini berpegang pada angka tahunan resmi Forbes, bukan angka real-time mana pun yang kami temukan di sepanjang riset. Fitur screener aset NetWort menunjukkan seberapa liar saham kecil yang tipis diperdagangkan dibanding saham berkapitalisasi besar, kesenjangan yang sama yang kami temukan antara Avia Avian dan Tanrise Property.