Kekayaan Tahir: Yayasannya Terkenal Lewat Donasi Besar, tapi Forbes dan Bloomberg Beda Pendapat Soal Angka Kekayaannya
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kalau kamu pernah dengar soal donasi besar Yayasan Tahir buat penanganan COVID-19 dulu, atau kerja sama jangka panjangnya dengan Bill Gates Foundation, kemungkinan kamu tahu nama Dato' Sri Tahir bukan dari gedung banknya, tapi dari filantropinya. Itu justru yang membuat kekayaan Tahir menarik dibahas: dia salah satu konglomerat Indonesia yang paling dikenal publik lewat aksi sosial, padahal angka kekayaannya sendiri, menurut dua lembaga pemeringkat berbeda, bisa selisih miliaran dolar.
Menurut daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes per 24 Oktober 2025, kekayaan Tahir tercatat US$11,9 miliar, peringkat #6 nasional. Tujuh minggu kemudian, daftar tahunan Forbes "Indonesia's 50 Richest 2025" (dirilis 10 Desember 2025) mencatatnya di US$10,8 miliar, naik ke peringkat #5. Pertengahan 2026, Bloomberg Billionaires Index, tracker yang berbeda dengan metodologi sendiri, malah mencatatnya lebih rendah lagi: US$9,3 miliar (Rp166,49 triliun), tetap #6 nasional tapi #414 dunia, turun US$4,4 miliar atau 32,1% sepanjang 2026.
| Sumber | Tanggal | Angka | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Forbes (daftar orang terkaya Indonesia) | 24 Oktober 2025 | US$11,9 miliar | #6 nasional |
| Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | 10 Desember 2025 | US$10,8 miliar | #5 nasional |
| Bloomberg Billionaires Index | dilaporkan 6 Juli 2026 | US$9,3 miliar (Rp166,49 triliun) | #6 nasional, #414 dunia, turun US$4,4 miliar (32,1%) di 2026 |
Dua angka Forbes di atas sah dibandingkan satu sama lain: penerbit yang sama, berjarak tujuh minggu, turun sekitar US$1,1 miliar. Angka Bloomberg sengaja tidak kami perlakukan sebagai lanjutan dari garis waktu Forbes, karena metodologinya beda; kami tampilkan sebagai perbedaan pendapat saja. Per pertengahan 2026, selisih Forbes dan Bloomberg soal kekayaan Tahir sekitar US$1,5 miliar, dan Bloomberg sendiri mengaitkan itu dengan penurunan 32,1% sepanjang 2026, bukan sekadar beda cara hitung sesaat.
Bukan satu holding di atas satu saham, tapi beberapa perusahaan yang masing-masing melantai sendiri di bursa.
Tahir adalah pemegang saham pengendali PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), bank yang dia dirikan pada 1989. Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek per 31 Juli 2025, dia memegang 5,06 miliar lembar saham langsung, sekitar 19,34% dari bank tersebut, ditambah saham Seri A dan Seri B (2,53% dan 27,36% dari modal disetor) lewat PT Mayapada Karunia, menurut laporan Indopremier atas data itu. Dia juga memegang sekitar 15,70% saham PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), peritel duty-free, per pengungkapan 30 September 2023, setelah membeli sekitar 13 juta lembar saham tambahan senilai Rp76,6 miliar pada Desember 2021. PT Sejahteraraya Anugerahjaya Tbk (SRAJ), pengelola jaringan Mayapada Hospital, dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) juga tercatat di BEI di bawah grup ini. MAYA, SRAJ, MPRO, dan SONA belum masuk daftar ticker terkurasi NetWort, jadi keempatnya disebut di sini tanpa tautan.
Dua perusahaan milik Tahir sama-sama sedang berat, di periode yang sama saat tracker Bloomberg memangkas US$4,4 miliar dari kekayaannya.
Saham MAYA sempat diperdagangkan serendah Rp164 per 4 Juni 2026, turun dari titik tertinggi 52 minggu di Rp334, penurunan lebih dari separuh. Di sisi lain, SRAJ (Mayapada Hospital) mencatat rugi bersih Rp199 miliar sepanjang 2025, naik 746% dari rugi Rp23,51 miliar tahun sebelumnya, meski pendapatan bersihnya masih tumbuh 10,63% jadi Rp2,58 triliun. Rugi itu melebar lagi di 2026: rugi per saham mencapai Rp7,40 pada kuartal pertama, naik dari Rp2,33 setahun sebelumnya. Baik bank maupun rumah sakit belum mengaitkan kerugian atau penurunan harga sahamnya dengan satu peristiwa tertentu; pelebaran rugi rumah sakit lebih banyak dikaitkan pengamat pasar dengan naiknya biaya pegawai seiring ekspansi fasilitas, bukan soal pendapatan.
Lebih tidak pasti dari yang terlihat, dan alasannya beda dari kebanyakan profil di seri ini. Kekayaan Tahir tersebar di setidaknya empat perusahaan yang masing-masing melantai sendiri, ditambah sejumlah unit yang sepenuhnya privat, jadi angka total dari sebuah tracker sangat bergantung pada cara mereka menimbang tiap bagian, bukan pada harga harian satu saham dominan. Ini kemungkinan salah satu alasan Forbes dan Bloomberg saat ini beda pendapat sekitar US$1,5 miliar.
Ketenaran Yayasan Tahir ada di jalur yang sama sekali berbeda dan sebaiknya tidak dibaca sebagai bukti soal besar-kecilnya kekayaannya. Yayasan Tahir bersama Mayapada Group menyumbang Rp52 miliar untuk penanganan COVID-19 di empat provinsi pada Maret 2020, menurut The Jakarta Post, dan yayasan ini sudah bermitra dengan Gates Foundation soal kesehatan dan keluarga berencana di Indonesia sejak 2013. Donasi itu terdokumentasi dengan baik dan banyak diliput media Indonesia, tapi angka Forbes maupun Bloomberg di atas tidak dihitung setelah dikurangi donasi itu, dan donasi itu juga tidak mengubah kepemilikan pengendalinya di MAYA, SONA, SRAJ, atau MPRO.
Tiga hal.
Kekayaan yang tersebar di beberapa perusahaan publik lebih sulit dinilai konsisten oleh satu tracker dibanding kekayaan yang bertumpu pada satu saham saja. Selisih sekitar US$1,5 miliar antara Forbes dan Bloomberg soal Tahir kemungkinan berasal dari asumsi berbeda di MAYA, SONA, SRAJ, dan MPRO sekaligus, bukan dari satu angka yang salah di salah satu penerbit.
Filantropi publik dan kekayaan pribadi adalah dua pembukuan yang terpisah. Donasi Yayasan Tahir, yang terdokumentasi sejak 2013, itu nyata dan bersumber jelas, tapi tidak menjelaskan apa pun soal naik-turunnya kepemilikan sahamnya tahun ini. Profil Warren Buffett yang sudah tayang justru menunjukkan kebalikannya: kekayaan yang sengaja menurun, tercatat di pengungkapan resminya ke regulator AS, karena dia memang membagikan saham Berkshire miliknya. Aktivitas yayasan Tahir berjalan berdampingan dengan kepemilikan sahamnya, bukan menguranginya.
Kalau ada bisnis besar yang ruginya melebar, cek dulu apakah itu benar-benar mengubah angka kekayaan yang tercatat, sebelum menganggap keduanya berhubungan. Rugi SRAJ di 2025 dan penurunan saham MAYA di 2026 sama-sama terjadi saat tracker Bloomberg mencatat penurunan, tapi baik bank maupun rumah sakit tidak pernah menghubungkan keduanya secara langsung di pengungkapan resmi, dan artikel ini juga tidak menghubungkan keduanya.