Kekayaan Keluarga Setiawan: Forbes Sebut US$3,6 Miliar, Saham Kalbe Farma Malah Turun 37%
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kekayaan keluarga Setiawan, pemilik Kalbe Farma dan jaringan rumah sakit Mitra Keluarga Karyasehat, ada di angka US$3,6 miliar menurut daftar Forbes "Indonesia's 50 Richest 2025" yang terbit 10 Desember 2025, menempatkan keluarga ini di posisi ke-22 nasional, turun dari posisi ke-13 pada 2023 dan ke-8 pada 2022 di daftar yang sama. Yang menarik, dalam sembilan bulan sejak daftar itu terbit, saham Kalbe Farma (KLBF) justru anjlok dari sekitar Rp1.160 ke Rp735, hampir 37%, padahal laba bersih perusahaan tahun 2025 naik 13%. Sampai artikel ini ditulis, belum ada angka terbaru 2026 dari Forbes maupun tracker lain untuk keluarga ini.
Forbes mencatat kekayaan ini di bawah dua nama berbeda. Saat pendiri Boenjamin Setiawan masih hidup, Forbes mencantumkan namanya sendiri: US$4,8 miliar, posisi ke-8 nasional, per daftar Desember 2022. Setelah ia meninggal pada 4 April 2023 di usia 89 tahun, daftar Forbes "Indonesia's 50 Richest" edisi 6 Desember 2023 melanjutkan pencatatan sebagai kekayaan keluarga senilai US$4,3 miliar, posisi ke-13. Daftar terbaru, "Indonesia's 50 Richest 2025" yang terbit 10 Desember 2025, menempatkan keluarga Setiawan di posisi ke-22 dengan US$3,6 miliar.
| Tanggal | Sumber | Angka | Peringkat di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Desember 2022 | Forbes (Boenjamin Setiawan, perorangan) | US$4,8 miliar | ke-8 |
| 6 Desember 2023 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest" | US$4,3 miliar | ke-13 |
| 10 Desember 2025 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | US$3,6 miliar | ke-22 |
Ketiga angka ini dari satu penerbit yang sama, Forbes, jadi penurunannya sah dibandingkan sebagai tren satu tracker, bukan membandingkan dua tracker berbeda. Kami tidak menemukan angka Bloomberg Billionaires Index bertanggal untuk keluarga Setiawan meskipun sudah mencari beberapa kali, dan belum ada juga angka Forbes Real-Time 2026 untuk keluarga ini, sejalan dengan temuan seri ini bahwa Bloomberg hanya memberi angka perorangan untuk segelintir nama Indonesia saja.
Boenjamin Setiawan mendirikan Kalbe Farma dari garasi rumah pada 1966 bersama beberapa saudaranya; kini Kalbe adalah perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Laporan keuangan FY2025 Kalbe sendiri, yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada 30 Maret 2026 dan diberitakan pada pekan yang sama oleh Bisnis.com dan Kontan, mencatat pendapatan Rp35,32 triliun, naik 8,26% dibanding tahun sebelumnya, dan laba bersih Rp3,66 triliun, naik 13,09%.
Kendali keluarga atas Kalbe dipegang lewat enam perusahaan pemegang saham, bukan satu, menurut keterbukaan informasi ke BEI yang dilaporkan Indopremier: PT Gira Sole Prima (sekitar 10,3%), PT Santa Seha Sanadi (9,71%), PT Diptanala Bahana (9,49%), PT Lucasta Murni Cemerlang (9,47%), PT Ladang Ira Panen (9,21%), dan PT Bina Arta Charisma (8,61%). Kami sengaja tidak menjumlahkan porsi-porsi ini menjadi angka kekayaan versi kami sendiri; angka US$3,6 miliar dari Forbes sudah memperhitungkan struktur ini lewat metodologi mereka sendiri.
Selain Kalbe, keluarga ini juga mengendalikan Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA), jaringan 30 rumah sakit, 21 di antaranya berlabel Mitra Keluarga dan 9 berlabel Kasih, terpusat di sekitar Jakarta dan Surabaya. Menurut presentasi investor perusahaan yang dikutip Investing.com, pendapatan semester pertama 2025 naik 4,5% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp2.563,46 miliar. Baik KLBF maupun MIKA ada di daftar ticker kurasi NetWort.
Saham Kalbe bergerak lebih jauh dibanding labanya. Saham ini diperdagangkan sekitar Rp1.160 hingga Rp1.190 pada pertengahan Desember 2025, menurut CNBC Indonesia, mendekati waktu Forbes menyusun daftarnya. Per 11 September 2026, menurut Investing.com, sahamnya sudah turun ke Rp735, mendekati batas bawah rentang 52 minggu di Rp630 hingga Rp1.345, penurunan sekitar 37% meski laba bersih FY2025 justru naik 13%.
Dua kejadian bertanggal ikut menyertai kesenjangan ini. Dalam acara public expose pada 11 September 2026, direktur Kalbe Kartika Setiabudi mengatakan, menurut pemberitaan Antara, Katadata, dan IDX Channel, bahwa free float anak usaha Enseval Putera Megatrading (EPMT) hanya 7,51%, di bawah ambang minimum 15% yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia, dan perusahaan sedang mempertimbangkan menambah porsi publik atau melakukan delisting terhadap anak usaha tersebut. Terpisah, Kalbe sendiri memberi panduan bahwa tekanan margin akibat fluktuasi rupiah dan kenaikan biaya bahan baku akan berlanjut hingga akhir 2026.
Lebih rapuh dari kelihatannya. Hanya Forbes yang memberi angka untuk keluarga ini, dan angka US$3,6 miliar itu sekarang sudah berumur sekitar sembilan bulan, mendahului penurunan saham sekitar 37% di kendaraan investasi utama keluarga ini. Kalau harga saham Kalbe saja yang menentukan kekayaan keluarga yang tercatat, angka terbaru hari ini kemungkinan lebih rendah, tapi belum ada penerbit yang merilis angka baru, dan kami tidak akan membuat angka sendiri yang belum pernah dipublikasikan Forbes. Angka ini juga masih berupa total keluarga yang tersebar di ahli waris Boenjamin dan enam entitas pemegang saham, kesenjangan struktural yang sama dengan yang kami temukan di profil keluarga Widjaja, Karim, dan Riady, bukan porsi satu orang saja.
Laba perusahaan dan harga sahamnya bisa bergerak berlawanan arah karena alasan yang tidak ada hubungannya dengan bisnis inti, dalam kasus ini soal kepatuhan free float anak usaha dan tekanan margin akibat kurs, bukan karena Kalbe tiba-tiba berhenti laku. Kesenjangan antara laba yang naik dan saham yang turun ini mirip pola yang kami temukan di Gudang Garam milik Susilo Wonowidjojo, hanya arahnya kebalikan di sisi tracker kekayaannya.
Untuk melihat bagaimana struktur keluarga dan suksesi bikin satu angka kekayaan jadi rumit di tempat lain dalam seri ini, cek:
Kalau portofolio kamu ada saham kesehatan atau farmasi Indonesia, halaman aset KLBF dan halaman aset MIKA di NetWort mengikuti harga harian tanpa perlu menunggu daftar orang terkaya tahunan.