Gelar "orang terkaya di Asia" sudah tiga kali berpindah tangan tahun ini di seri ini saja: dari Mukesh Ambani, ke Gautam Adani, dan sekarang Masayoshi Son, bos SoftBank asal Jepang. Kekayaan Masayoshi Son tercatat $64 miliar menurut Forbes per 19 Juli 2026, peringkat ke-30 dunia. Sepuluh minggu sebelumnya, penerbit yang sama sempat menaksirnya $80 miliar: daftar "Japan's 50 Richest 2026" milik Forbes, dengan penilaian per 22 Mei 2026, mencatat kekayaannya naik $51,8 miliar, atau 184%, dibanding setahun sebelumnya, kenaikan terbesar di daftar itu baik dari sisi dolar maupun persentase, sampai membuatnya jadi orang terkaya Jepang lagi untuk pertama kalinya sejak 2021. Dua-duanya angka Forbes, jadi selisih $16 miliar itu murni pergerakan angka dari satu penerbit yang sama, bukan beda pelacak.
Angkanya, dan siapa yang bilang
Forbes menaksir Masayoshi Son $80 miliar di daftar "Japan's 50 Richest 2026", dengan penilaian per penutupan pasar 22 Mei 2026 dan daftarnya terbit 8 Juni 2026, didorong oleh laba bersih SoftBank Group yang mencapai rekor ¥5 triliun (sekitar $31 miliar) untuk tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2026, sebagian besar berkat kenaikan nilai kepemilikannya di OpenAI. Dalam dua minggu, Forbes melaporkan kekayaannya turun sekitar $13 miliar seiring saham SoftBank melemah, membuatnya kehilangan gelar "orang terkaya di Asia" yang sempat dia pegang (4 Juni 2026), dan laporan Forbes lain pada 11 Juni 2026 mencatat penurunan lanjutan hampir $22 miliar dalam seminggu berikutnya seiring saham SoftBank terus tertekan. Per 19 Juli 2026, angka real-time Forbes mengendap di $64 miliar. Pencarian untuk tulisan ini tidak menemukan angka dari Forbes atau pelacak lain yang lebih baru dari 19 Juli 2026, jadi itulah angka bersumber paling akhir yang tersedia, sudah lebih dari dua bulan lewat mengingat betapa cepatnya kekayaan ini bergerak tahun ini.
Tanggal
Sumber
Angka
Keterangan
22 Mei 2026 (tanggal penilaian daftar)
Forbes, "Japan's 50 Richest 2026"
$80 miliar
Naik 184% dari tahun sebelumnya, kembali jadi #1 Jepang
4 Juni 2026
Forbes
turun ~$13 miliar
Kehilangan gelar "orang terkaya Asia" seiring saham SoftBank melemah
19 Juli 2026
Forbes (real-time)
$64 miliar
Peringkat ke-30 dunia
Sumber kekayaannya
Berdasarkan keterbukaan informasi SoftBank sendiri, seperti dilaporkan The Motley Fool (19 Agustus 2026), kepemilikan langsung Son di SoftBank Group sekitar 29,88% per 31 Maret 2026, ditambah kepemilikan lewat Son Asset Management, LLC, kendaraan investasi yang dia kendalikan. Hampir seluruh kekayaan yang terlacak ini mengalir lewat satu perusahaan itu saja, bukan portofolio yang tersebar. Dua aset terbesar SoftBank yang bisa diidentifikasi adalah saham mayoritas di perancang chip Arm Holdings (ARM) dan posisinya yang terus membesar di OpenAI lewat Vision Fund. Berdasarkan pengumuman investor SoftBank Group sendiri (27 Februari 2026) dan pemberitaan setelahnya, perusahaan berkomitmen menambah $30 miliar ke OpenAI sebagai bagian dari putaran pendanaan $122 miliar yang rampung Maret 2026, membuat total investasinya di OpenAI mencapai $64,6 miliar untuk kepemilikan sekitar 13%. Baik ARM maupun SoftBank Group sendiri (tercatat di Tokyo sebagai 9984, di OTC sebagai SFTBY) tidak ada di daftar ticker kurasi NetWort (frontend/scripts/curated-tickers.mjs, backend/app/services/asset_symbol_service.py), dicek pada penulisan ini, jadi keduanya hanya disebut kodenya saja tanpa tautan.
Yang bikin kekayaannya bergerak belakangan ini
Taruhan OpenAI kini jadi cerita soal pembiayaan, bukan cuma investasi. SoftBank meluncurkan apa yang oleh beberapa media disebut sebagai penerbitan obligasi junk terbesar dari Asia-Pasifik, mencari lebih dari $11 miliar (Bloomberg, 21 September 2026) untuk mendanai tahap terakhir dari komitmen $30 miliarnya ke OpenAI, artinya sebagian besar posisi di balik kekayaan Son yang terlacak kini dibiayai lewat utang, bukan kas sendiri. Terpisah, pergerakan tahun ini menempatkan Son di tengah gelar yang berpindah-pindah sepanjang 2026: seri ini sudah membahas tiga orang, Son, Mukesh Ambani, dan Gautam Adani, yang masing-masing sempat memegang gelar "orang terkaya di Asia" versi Forbes dalam tahun yang sama, pergantian yang didorong pergerakan saham terkait AI, bukan semata laba satu perusahaan.
Seberapa bisa dipercaya angka ini
Ini salah satu kekayaan paling bergejolak yang pernah dibahas seri ini. Selisih lebih dari $30 miliar dalam satu kuartal, dan celah $16 miliar antara dua angka Forbes yang cuma berjarak sepuluh minggu, sama-sama datang dari penerbit yang sama yang menaksir ulang saham SoftBank yang sama seiring harganya bergerak, bukan karena beda metodologi. Gejolak ini sifatnya struktural: kekayaan Son terkonsentrasi di satu perusahaan induk yang neraca keuangannya sendiri kini memakai utang untuk taruhan besar di satu aset AI yang belum tercatat di bursa. Angka yang sesensitif ini terhadap harga penutupan saham harian, nyaris pasti sudah usang hanya dalam hitungan hari setelah dipublikasikan, jauh lebih cepat dibanding kekayaan yang bersandar pada portofolio yang stabil dan tersebar.
Apa artinya buat kamu
Kalau sebagian besar kekayaan yang terlacak menumpuk di satu perusahaan, dan perusahaan itu sendiri sedang bertaruh besar pakai utang di satu aset yang belum tercatat di bursa, angka yang terlacak bisa bergerak puluhan miliar dolar dalam hitungan minggu tanpa ada perubahan apa pun di bisnis inti yang sebenarnya dijual perusahaan itu. Untuk mekanisme terkait di seri ini, baca juga:
Profil Mukesh Ambani, orang terakhir yang sempat memegang, lalu kehilangan, gelar "orang terkaya Asia" sebelum Son.
Profil Gautam Adani, nama lain dalam pergantian gelar orang terkaya Asia di tahun yang sama.
Profil Jensen Huang, kasus pertama di seri ini di mana selisih antar pelacak datang dari pergerakan saham era AI, bukan beda definisi kepemilikan.
Halaman market NetWort memantau pergerakan harian perusahaan yang tercatat di bursa, jenis penilaian harian yang sama yang menggerakkan kekayaan sekonsentrasi milik Son.