Kekayaan Michael Hartono: US$17,5 Miliar Versi Forbes Saat Wafat, dan Dua Angka Berbeda untuk Warisan Anak-anaknya
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kekayaan Michael Hartono tercatat US$17,5 miliar versi Forbes pada 19 Maret 2026, hari ia wafat di Singapura pada usia 86 tahun, menurut CNN Indonesia. Desember 2024, Forbes menaksirnya US$25,1 miliar. Artinya angka Forbes untuk dirinya turun sekitar US$7,6 miliar, kurang lebih 30%, dalam 15 bulan. Lalu pada Agustus 2026, dua media menghitung warisan untuk empat anaknya dengan angka yang tidak sama.
Michael Bambang Hartono, pendiri Djarum Group bersama adiknya, Robert Budi Hartono, wafat pada 19 Maret 2026 di rumah sakit di Singapura, menurut pernyataan Djarum Group yang dikutip Associated Press dan Antara. Ia lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939.
Forbes satu-satunya tracker yang kami temukan menghitung Michael Hartono secara individu, bukan bersama adiknya. Dua angka individu di bawah sama-sama dari Forbes, jadi perbandingannya tetap dalam satu seri.
| Penerbit | Tanggal | Angka | Catatan |
|---|---|---|---|
| Forbes | Desember 2024 | US$25,1 miliar | peringkat 76 dunia |
| Forbes | Desember 2025 | US$43,8 miliar | angka gabungan dua bersaudara, Indonesia's 50 Richest |
| Forbes | 19 Maret 2026 | US$17,5 miliar | sekitar peringkat 157 sampai 158, tergantung media (via CNN Indonesia) |
Angka Desember 2025 bukan pembanding untuk Maret 2026, karena menghitung dua orang sekaligus. Hanya dua angka individu Forbes yang sebanding, itu pun dari produk Forbes yang berbeda: daftar tahunan dan tracker real-time.
Sebagian besar lewat PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), holding privat yang memegang 54,942% saham Bank Central Asia (kode BBCA), menurut keterbukaan informasi BCA sendiri. Sisanya ada di Djarum, produsen rokok kretek, serta bisnis properti, perkebunan, dan teknologi.
Menurut Bloomberg pada 12 Agustus 2026, yang mengutip dokumen pemerintah, 49% saham Michael di DIA dibagi rata untuk empat anaknya. Bloomberg menghitung nilai stake itu minimal US$11,7 miliar per 11 Agustus, hanya dari kepemilikan DIA di BCA, atau minimal US$2,93 miliar per anak.
AsiaOne dan Tempo edisi Inggris, yang memberitakan suksesi yang sama pada Agustus 2026, menyebut angka lain: US$3,75 miliar per anak, atau US$15 miliar untuk keempatnya. Angka Bloomberg adalah batas bawah dari saham BCA saja, sementara laporan lainnya tidak menjelaskan cara menghitung angka yang lebih tinggi. Karena itu artikel ini tidak memilih salah satu.
Kami tidak menemukan penerbit yang mengaitkan turunnya angka Forbes sejak 2024 dengan satu sebab tertentu. Nilai DIA memang bergerak mengikuti harga saham BBCA, tapi itu fakta struktur kepemilikan, bukan temuan soal angka ini.
Tidak sepasti kelihatannya. BBCA diperdagangkan tiap hari, tapi DIA privat dan Djarum tidak punya harga pasar sama sekali. Bandingkan dengan Sukanto Tanoto yang hartanya hampir seluruhnya privat, atau Françoise Bettencourt Meyers yang warisannya ada di holding keluarga di atas satu saham publik, bentuk yang mirip DIA. Setelah seseorang wafat muncul lapisan baru: angka tracker untuk orangnya berhenti, lalu angka untuk para ahli waris mulai, masing-masing dengan metodenya sendiri.
Angka kekayaan orang yang sudah wafat adalah pembacaan terakhir, bukan angka hidup. US$17,5 miliar dari Forbes bertanggal 19 Maret 2026. Angka warisan Agustus adalah taksiran terpisah untuk peristiwa yang berbeda, jadi jangan dijumlahkan atau dikurangkan dengan angka itu.
Kalau dua media kredibel menghitung transfer yang sama dengan harga berbeda, selisihnya justru ceritanya. Cek apakah tiap angka hanya menghitung satu saham tercatat atau seluruh harta keluarga. Dalam catatan publik yang kami temukan, tidak ada yang menunjukkan hal lain selain suksesi tertib yang tercatat di dokumen pemerintah. Untuk harga harian saham tercatat seperti BBCA, halaman aset dan halaman market NetWort menampilkannya langsung.