Kekayaan Peter Sondakh: US$3,1 Miliar yang Bergantung pada Satu Saham Emas
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kalau kamu pernah menginap atau sekadar lewat di Four Seasons Jakarta atau St. Regis Bali, kamu sudah mampir ke properti milik satu orang: Peter Sondakh, bos Rajawali Corpora. Kekayaan Peter Sondakh tercatat US$3,1 miliar menurut daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" dari Forbes yang terbit 10 Desember 2025, menempatkannya di peringkat 26 orang terkaya Indonesia. Forbes bilang lonjakan US$1 miliar dari tahun sebelumnya ini datang dari saham Archi Indonesia, anak usaha tambang emasnya, yang harganya naik lebih dari empat kali lipat. Tiga bulan kemudian, di daftar tahunan Forbes World's Billionaires 2026 (10 Maret 2026), angkanya cuma US$3,05 miliar, nyaris tidak berubah, padahal harga emas sendiri sempat bergejolak liar di antara dua tanggal itu.
Forbes menempatkan Peter Sondakh di peringkat 26 orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$3,1 miliar pada daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" (10 Desember 2025), naik dari tahun sebelumnya berkat saham Archi Indonesia yang melesat. Di daftar tahunan ke-40 Forbes World's Billionaires, terbit 10 Maret 2026 bersama rekor 3.428 nama, dia berada di peringkat 1.137 dunia dengan kekayaan US$3,05 miliar. Dua angka ini sama-sama dari Forbes, jadi ini perbandingan yang sah dari satu sumber yang sama: dalam tiga bulan itu, saat harga emas dunia naik-turun dua digit (lihat bagian bawah), kekayaan Sondakh versi Forbes cuma bergeser kurang dari 2%.
| Tanggal | Sumber | Angka | Peringkat |
|---|---|---|---|
| 10 Desember 2025 | Forbes, Indonesia's 50 Richest 2025 | US$3,1 miliar | 26 nasional |
| 10 Maret 2026 | Forbes, World's Billionaires List 2026 | US$3,05 miliar | 1.137 dunia |
Tidak ada angka Bloomberg Billionaires Index bertanggal atas nama Peter Sondakh yang ditemukan meski sudah dicari berkali-kali. Ini sejalan dengan temuan tetap seri ini: Bloomberg cuma menaksir segelintir nama Indonesia secara individual, yaitu Sukanto Tanoto, Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong, Robert Budi Hartono, dan Tahir.
Sondakh, lahir 23 Juni 1953, mendirikan PT Rajawali Wira Bhakti Utama pada 1984, yang berganti nama jadi PT Rajawali Corporation pada 1995 dan sekarang dikenal sebagai Rajawali Corpora, tempat dia menjabat chairman sekaligus CEO. Jalan kariernya bukan satu perusahaan seumur hidup, melainkan pola bangun-lalu-jual: dia mendirikan RCTI, televisi swasta pertama Indonesia, membesarkan operator telekomunikasi XL jadi salah satu yang terbesar, dan sempat mengendalikan Bentoel Group sebelum menjualnya ke British American Tobacco pada 2009. Yang tersisa sekarang adalah Archi Indonesia (ARCI), perusahaan tambang emas yang tercatat di BEI dan mengoperasikan tambang Toka Tindung di Sulawesi Utara, serta Rajawali Property Group, berdiri sejak 1989, pemilik Four Seasons Hotel Jakarta dan St. Regis Jakarta maupun Bali. ARCI tidak ada di daftar ticker kurasi NetWort, sudah dicek di frontend/scripts/curated-tickers.mjs dan backend/app/services/asset_symbol_service.py, jadi di sini cuma disebut namanya saja, tanpa tautan aset.
Harga emas sungguh bergejolak sepanjang 2026. CNBC melaporkan emas sempat menyentuh rekor intraday sekitar US$5.589 per ons pada 28 Januari 2026 saat pemburuan aset aman memanas. Pada 12 Mei 2026, menurut laporan CNBC yang lain, harganya sudah turun ke sekitar US$4.694, anjlok sekitar 16% dari puncaknya. Saham Archi Indonesia mengikuti pola serupa: rekor tertinggi Rp2.120 pada 21 Januari 2026, turun ke Rp1.370 pada 30 Maret 2026, lalu pulih sebagian ke sekitar Rp1.605 pada awal Mei 2026. Di balik naik-turun harga itu, tambangnya sendiri tetap berproduksi: Archi Indonesia melaporkan produksi emas 2025 sebesar 122.000 ons, naik 33% dari tahun sebelumnya, dan membagikan dividen US$60 juta dari laba 2025, menurut laporan Bareksa tanggal 5 Mei 2026. Untuk 2026, perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi minimal 15% lagi.
Archi Indonesia adalah satu-satunya bagian kekayaan ini yang bersih, bertanggal, dan harganya terpantau di bursa, makanya naik-turun harganya langsung terasa di angka Forbes. Sisanya, mulai dari properti hotel Rajawali, warisan bisnis media dan telekomunikasinya, sampai saham yang disengketakan di Eagle High Plantations, berada di entitas privat atau tak tercatat yang harganya tidak diumumkan ke publik. Kombinasi satu aset yang transparan menopang portofolio yang sebagian besar tertutup ini lebih mirip Royal Golden Eagle milik Sukanto Tanoto yang sepenuhnya privat, ketimbang kekayaan satu saham yang benar-benar transparan seperti milik Michael Dell. Ini juga menjelaskan kenapa angka Forbes untuk Sondakh nyaris tidak bergeser dari Desember 2025 ke Maret 2026, walau pasar emas bergolak keras di antaranya: daftar seperti milik Forbes itu potret berkala, bukan data langsung, jadi tanggal persis pengambilan datanya bisa lebih menentukan ketimbang gejolak harga di antara dua tanggal itu.
Kekayaan yang sebagian besar bertumpu pada satu saham kapitalisasi kecil dan satu komoditas bisa naik-turun dua digit di antara dua potret yang mencatatnya, meski angka utamanya terlihat stabil dari satu daftar ke daftar berikutnya. Jarak antara tanggal terbit sebuah daftar dan kenyataan harga saham sehari-hari ini penting kamu ingat sebelum menganggap satu angka kekayaan sebagai data yang selalu terkini. Untuk perbandingan kekayaan yang terkonsentrasi dan kurang transparan dengan yang sepenuhnya publik di seri ini, baca juga: