Kekayaan Putera Sampoerna: Forbes Naikkan Taksirannya dari $1,85 Miliar ke $2,5 Miliar Usai Lepas Bisnis Sawit
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Nama Putera Sampoerna mungkin lebih kamu kenal dari rokok kretek yang dulu jadi bisnis keluarganya, bukan dari daftar orang terkaya. Padahal taksiran kekayaan Putera Sampoerna justru naik dalam waktu singkat tahun lalu. Menurut daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" Forbes yang terbit 10 Desember 2025, kekayaannya tercatat $2,5 miliar, menempatkan pendiri Sampoerna Strategic Group ini di peringkat ke-32 nasional. Lima minggu sebelumnya, artikel Forbes tertanggal 20 November 2025 yang mengabarkan penjualan seluruh bisnis sawit keluarga ini, menyebut kekayaan keluarga Sampoerna cuma $1,85 miliar. Dua-duanya angka Forbes, jadi kenaikan dalam lima minggu ini beneran, bukan salah hitung: penyebabnya penjualan Sampoerna Agro senilai $885 juta yang baru sempat masuk hitungan Forbes di daftar tahunan, tapi belum di taksiran hari penjualan. Putera Sampoerna menjual bisnis rokok keluarganya, PT HM Sampoerna, ke Philip Morris International pada 2005, dan sejak itu memimpin Sampoerna Strategic Group, perusahaan investasi yang lebih beragam.
Artikel Forbes oleh Yessar Rosendar, terbit 20 November 2025 di hari yang sama dengan pengumuman penjualan ke Posco, menyebut "Sampoerna dan keluarganya punya kekayaan bersih $1,85 miliar." Daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" Forbes, terbit 10 Desember 2025 (ditulis Jane Ho, bagian dari daftar yang menurut Forbes total kekayaan 50 orang terkayanya tembus $300 miliar), menempatkan "Putera Sampoerna & family" di peringkat ke-32 nasional dengan $2,5 miliar. Dua-duanya angka Forbes, jadi ini perbandingan yang sah di dalam satu pelacak yang sama dalam rentang lima minggu. Tidak ada angka Bloomberg Billionaires Index bertanggal yang menyebut nama Putera Sampoerna atau keluarganya, meski sudah dicari beberapa kali, sejalan dengan temuan tetap seri ini bahwa Bloomberg cuma menaksir segelintir nama Indonesia secara individual.
| Tanggal | Sumber | Angka | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 20 November 2025 | Forbes (Yessar Rosendar) | $1,85 miliar | Dilaporkan di hari yang sama dengan penjualan Sampoerna Agro |
| 10 Desember 2025 | Forbes "Indonesia's 50 Richest 2025" | $2,5 miliar | Peringkat ke-32 nasional |
Putera Sampoerna, lahir 13 Oktober 1947, memimpin PT HM Sampoerna, pabrik rokok kretek yang dibangun keluarganya, sejak 1978 sampai 2000. Pada 2005, keluarga menjual seluruh sisa sahamnya ke Philip Morris International lewat kesepakatan yang menilai perusahaan itu $5,2 miliar termasuk utang bersih, menurut pemberitaan saat transaksi berlangsung dan dokumen resmi Philip Morris International sendiri. Sejak itu, keluarga menjalankan Sampoerna Strategic Group, perusahaan holding privat dengan bisnis di perbankan, properti, kehutanan, dan sampai baru-baru ini, sawit.
Bisnis sawitnya, produsen yang tercatat di bursa, Sampoerna Agro, dijual seluruhnya: kendaraan keluarga, Twinwood Family Holdings, melepas seluruh 66% sahamnya ke unit usaha Posco International dari Korea Selatan senilai $885 juta, kesepakatan yang dilaporkan Forbes dan dikonfirmasi Baker McKenzie, penasihat hukum transaksi ini, serta Indonesia Business Post, yang melaporkan perusahaan itu kemudian berganti nama jadi Prime Agri Resources. Sampoerna Strategic Group bilang penjualan ini membuat mereka bisa fokus lagi ke bisnis lain, termasuk perbankan, kayu lapis, dan properti. SGRO, kode saham Sampoerna Agro yang lama, sudah dipastikan tidak ada di daftar ticker kurasi NetWort (frontend/scripts/curated-tickers.mjs, backend/app/services/asset_symbol_service.py), jadi di sini hanya disebut kodenya saja, apalagi keluarga ini sudah tidak lagi memilikinya.
Setelah bisnis sawit lepas, sinyal terbaru yang paling jelas soal bisnis keluarga yang tersisa datang dari perbankan. Bank Sahabat Sampoerna, bank yang fokus ke segmen UMKM milik grup ini, membukukan laba bersih semester pertama 2026 sebesar Rp15,9 miliar, naik 41,29% dari tahun sebelumnya yang Rp11,2 miliar, menurut laporan Kontan dan Antara yang sama-sama bertanggal sekitar 7 Juli 2026. Sebelumnya, laba bersih kuartal pertama 2026 tercatat Rp8,9 miliar, naik 68% dari tahun sebelumnya yang Rp5,3 miliar, menurut Investortrust.id dan Infobanknews. Bank Sahabat Sampoerna adalah bank privat tanpa kode saham di BEI, jadi angka-angka ini menggambarkan kesehatan satu bagian grup, bukan pergerakan saham yang dihargai pasar.
Kurang bisa dipercaya dibanding kalau kekayaannya ada di satu saham publik saja. Bisnis Sampoerna Strategic Group yang tersisa, perbankan, properti, kayu lapis, dan telekomunikasi, semuanya privat, jadi taksiran Forbes harus dibangun dari campuran nilai transaksi yang diumumkan, seperti penjualan ke Posco, dan asumsi soal sisa grup yang tidak bisa diverifikasi independen seperti halnya harga saham harian. Fakta bahwa dua angka Forbes ini malah naik, bukan turun, dalam lima minggu jadi bukti sendiri betapa besar pengaruh satu transaksi yang diumumkan, penjualan sawit senilai $885 juta, terhadap taksiran yang sebagian besar dibangun dari aset privat.
Kekayaan Putera Sampoerna menunjukkan apa yang terjadi kalau konglomerasi privat menjual satu-satunya bisnis yang tercatat di bursa: angkanya bergerak ratusan juta dolar hanya dalam lima minggu, mengikuti kesepakatan yang diumumkan, bukan harga pasar. Taipan rokok kretek lain di seri ini justru memilih jalan berbeda. Untuk kekayaan dan mekanisme terkait, baca juga:
Halaman pasar NetWort memantau saham-saham yang paling banyak bergerak hari ini, kalau kamu mau lihat pergerakan nama-nama konsumer dan keuangan.