Kenapa Sekolah Tidak Pernah Mengajarkan Soal Uang, dan Dua Nasihat Viral yang Justru Berbahaya di Sini
Baca 9 menit
Baca 9 menit
Tahun 2025, 80,51% orang dewasa Indonesia sudah pakai produk keuangan formal. Yang benar-benar paham produk yang dia pakai cuma 66,46%.
Dua angka itu keluar dari survei OJK yang sama, dirilis bareng. Dan jarak di antaranya adalah inti dari seluruh masalah ini. Ada 14 poin populasi dewasa yang sedang memegang sesuatu, entah pinjaman, rekening investasi, atau tagihan paylater, yang tidak pernah ada yang jelaskan ke mereka.
Jarak itulah alasan video wawancara jalanan soal uang bisa ditonton puluhan juta orang. Kanal seperti School of Hard Knocks tidak menemukan topik baru. Mereka cuma masuk ke ruang yang dibiarkan kosong oleh sekolah.
Kanal wawancara jalanan yang dimulai tahun 2021 oleh James Dumoulin, bareng saudaranya Jack Dumoulin dan Joshua Smith. Formatnya sederhana sampai terkesan blak-blakan: berhentikan orang di jalan, tanya kerjanya apa dan penghasilannya berapa, lalu biarkan jawabannya mengalir.
Rata-rata videonya ditonton lebih dari sepuluh juta kali. Yang diwawancara mulai dari pemilik usaha dan tukang, sampai nama besar seperti Robert Kiyosaki, investor properti Ken McElroy, dan Matt Ishbia dari UWM.
Tapi bukan nama besarnya yang bikin format ini jalan. Yang bikin jalan adalah kenyataan bahwa kebanyakan orang belum pernah sekali pun dengar orang lain menjawab pertanyaan "penghasilan kamu berapa, dan dapatnya dari mana" dengan terbuka. Sekolah tidak membahasnya. Di rumah pun sering tabu. Jadi orang asing di pinggir jalan malah jadi sumber jujur pertama yang pernah mereka temui.
Ini ide paling kuat dari seluruh genre ini, dan data OJK mendukungnya langsung.
Inklusi keuangan Indonesia naik ke 80,51% di 2025, dari 75,02% tahun sebelumnya. Literasi keuangan naik ke 66,46%, dari 65,43%. Inklusi naik lebih dari lima poin. Literasi naik satu poin.
Baca itu sebagai urutan kejadian, bukan sebagai dua statistik terpisah. Produknya datang. Aplikasinya datang. Kredit instan datang. Pemahamannya tidak datang dengan kecepatan yang sama, karena memang tidak ada satu pun mata pelajaran yang pernah ditugaskan untuk mengantarkannya.
Pemerintah sendiri sudah mengakui ini. Perpres 12/2025 menetapkan target nasional literasi 69,35% dan inklusi 93,00% pada 2029, dan survei SNLIK lanjutannya dijalankan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan 75.000 responden, digarap bareng OJK, BPS, dan LPS. Orang tidak membangun alat ukur sebesar itu untuk masalah yang dianggap masalah pribadi.
Jadi kalau kamu pernah merasa ketinggalan soal uang, versi jujurnya: kamu dikasih alatnya duluan, jauh sebelum ada yang kasih buku manualnya.
Hampir semua orang berpenghasilan tinggi di wawancara itu akhirnya bilang hal yang mirip. Bukan "saya nemu aset rahasia", tapi lebih ke: saya belajar menjelaskan nilai ke orang lain.
Sekolah menilai kamu dari kemampuan menghasilkan jawaban benar, sendirian, dalam diam, dikejar waktu. Nyaris tidak ada penghasilan orang dewasa yang bekerja seperti itu. Penghasilan datang dari meyakinkan seseorang bahwa yang kamu bisa lakukan itu layak dibayar, entah orang itu klien, atasan, atau pemilik tempat usaha.
Ini bukan trik, dan bukan manipulasi. Ini cuma pengamatan bahwa kemampuan teknis dan kemampuan menjelaskan kemampuan teknis itu dua hal berbeda, dan cuma satu yang diujikan.
Kejutan yang berulang di video-video itu: orang dengan penghasilan terbesar sering justru mengerjakan hal yang tidak pernah ada yang pamerkan. Perpipaan. Pengelolaan sampah. Logistik. Jasa kebersihan industri. Perancah bangunan.
Mekanismenya tidak misterius. Pekerjaan yang tidak keren menarik lebih sedikit pemain baru. Pemain lebih sedikit berarti persaingan harga lebih longgar. Persaingan lebih longgar berarti marginnya selamat.
Gengsi itu sudah dihitung ke dalam harga. Kalau sebuah bidang enak untuk dipamerkan, orang rela dibayar lebih murah untuk ada di dalamnya, dan kerelaan itu muncul sebagai upah yang lebih rendah.
Dua usaha bisa menghasilkan angka yang sama persis, lalu sepuluh tahun kemudian berada di tempat yang sama sekali berbeda. Pembedanya satu keputusan yang diulang terus: uangnya diapakan setelah masuk.
Kelompok pertama mengubah untung jadi barang yang kelihatan. Kelompok kedua mengubah untung jadi hal yang menghasilkan untung lagi. Dalam satu bulan, dua-duanya tidak kelihatan dramatis. Dalam sepuluh tahun, selisihnya tidak bisa dibandingkan lagi.
Ini satu-satunya pelajaran dari genre ini yang bisa langsung dipakai orang yang tidak punya usaha, karena pilihan yang sama juga ada di gaji bulanan. Sayangnya ini juga pelajaran yang paling susah dilihat prosesnya, dan itu masalah yang akan kita bahas di akhir.
Sekarang bagian yang berbahaya, dan bahayanya khusus di sini.
Klaimnya biasanya begini: menabung itu buat orang yang kalah, karena inflasi menggerogoti uang tunai. Bagian penggerogotannya memang benar. Kesimpulannya tidak.
Uang tunai yang disimpan lama memang kehilangan daya beli, dan kami sudah membahas berapa persisnya biaya uang menganggur. Tapi orang yang mengucapkan kalimat itu di depan kamera sudah punya dana darurat, punya beberapa sumber penghasilan, dan punya akses kredit dengan bunga kelas institusi. Penontonnya biasanya tidak punya satu pun dari ketiganya.
Tanpa bantalan tunai, satu pengeluaran tak terduga langsung berubah jadi pinjaman. Dan di Indonesia sekarang, pinjaman itu punya tujuan akhir yang sudah bisa kita tebak dari datanya.
Versi jujur dari pelajaran ini bukan slogan, tapi urutan: bangun dana daruratnya dulu, baru khawatirkan penggerogotannya. Uang tunai memang bukan investasi. Fungsinya menahan supaya satu bulan yang buruk tidak berubah jadi lingkaran utang.
Pembedaan ini nyata secara akuntansi. Utang yang membiayai aset produktif memang berperilaku beda dari utang yang membiayai konsumsi. Masalahnya muncul waktu ide itu sampai ke telinga orang banyak sebagai dorongan semangat.
Ini kondisi datanya di Indonesia per awal 2026:
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Tingkat gagal bayar pinjol (TWP90), Feb 2026 | 4,54%, naik dari 2,78% setahun sebelumnya |
| Ambang batas yang diawasi OJK | 5% |
| Porsi kredit macet pinjol dari usia 19 sampai 34, Mar 2026 | 48,65% |
| Total outstanding pinjol | Rp101,03 triliun |
| Outstanding paylater | Rp28,3 triliun dari 30,81 juta pengguna |
Hampir separuh kredit macet pinjol ditanggung orang usia 19 sampai 34 tahun, dan tingkat gagal bayarnya sedang mendekati angka yang dianggap garis merah oleh regulator. OJK sedang menyiapkan pembatasan untuk produk paylater. Mayoritas pinjaman ini dipakai untuk gaya hidup, bukan untuk keadaan darurat dan bukan untuk aset.
Sedikit catatan soal Robert Kiyosaki, karena ide-idenya jadi fondasi hampir seluruh genre ini.
Sosok "Rich Dad" di buku Rich Dad Poor Dad tidak pernah bisa diidentifikasi, dan Kiyosaki sendiri mengakui tokoh itu gabungan beberapa orang, bukan satu orang tertentu. Tahun 2012, perusahaannya Rich Global LLC mengajukan kebangkrutan Chapter 7 setelah kalah dalam putusan senilai sekitar 24 juta dolar AS soal royalti seminar yang tidak dibayar. Bisnis seminar yang dibangun di atas buku-bukunya juga berkali-kali dikritik karena menjual paket lanjutan sampai puluhan ribu dolar per peserta.
Semua itu tidak otomatis membuat setiap idenya salah. Tapi artinya kritik yang paling sering muncul, bahwa dia mendorong orang berutang tanpa peduli apakah pendengarnya sanggup bertahan kalau tebakannya meleset, layak kamu pegang sambil menonton.
Dan pakai ukuran yang sama ke kami. Kami membuat aplikasi pencatat portofolio. Itu sebabnya saran kami di akhir artikel ini adalah "mulai ukur", dan kamu berhak menimbangnya dengan itu di kepala.
Empat hal, berurutan, dan tidak satu pun mengharuskan kamu punya usaha.
Bangun bantalannya dulu sebelum mengoptimalkan apa pun. Uang tunai yang cukup untuk menutup beberapa bulan biaya tetap, disimpan di tempat yang membosankan. Langkah ini yang bikin semua langkah setelahnya bisa selamat kalau ada yang meleset.
Tulis utangmu, lengkap dengan bunganya. Bukan rencana, cukup daftar. Kebanyakan orang hafal cicilan bulanannya tapi tidak hafal bunganya, dan justru begitulah saldo yang tadinya terkendali berubah jadi tidak terkendali. Kalau kamu punya KPR, biaya pelunasan lebih awal juga masuk daftar ini.
Cari tahu sebenarnya kamu punya apa. Hampir semua orang tahu kira-kira berapa pengeluarannya, karena tiap transaksi mengirim notifikasi. Hampir tidak ada yang tahu total asetnya, karena asetnya tersebar di enam tempat yang tidak pernah saling bicara.
Lalu perhatikan arahnya, bukan besarnya. Angkanya sendiri kurang penting dibanding pertanyaan apakah angka itu naik dibanding kuartal lalu.
Dua langkah terakhir itu versi praktis dari Pelajaran 4. Hasil dari memutar untung itu menumpuk diam-diam, jadi satu-satunya cara supaya kamu tetap semangat menjalaninya adalah membuatnya kelihatan. Kemajuan yang tidak bisa kamu lihat adalah kemajuan yang tidak akan kamu lanjutkan.
Literasi keuangan Indonesia sebenarnya membaik tidak? Membaik, tapi pelan, dan lebih pelan dari aksesnya. Literasi naik dari 65,43% ke 66,46% antara survei OJK 2024 dan 2025, sementara inklusi naik dari 75,02% ke 80,51%. Jaraknya melebar, bukan menyempit.
Berarti semua utang itu buruk? Tidak. Utang yang membiayai sesuatu yang benar-benar menghasilkan lebih besar dari biayanya memang beda dari utang untuk konsumsi. Poinnya, bagian "benar-benar menghasilkan lebih besar dari biayanya" itu klaim yang harus kamu buktikan, bukan kamu asumsikan. Dan dana daruratnya harus ada duluan.
Kenapa kanal wawancara jalanan seperti ini penontonnya banyak sekali? Karena mereka menjawab pertanyaan yang tidak dijawab siapa pun secara terbuka. Gaji tidak dibahas di sekolah, dan sering tidak dibahas di rumah juga. Formatnya tidak canggih, dia cuma yang pertama.
Harus punya usaha dulu untuk bisa pakai ini semua? Tidak. Pelajaran soal memutar untung, yaitu belanja lebih kecil dari penghasilan lalu mengalirkan selisihnya ke hal yang menghasilkan lagi, jalannya sama persis di gaji bulanan. Contoh usaha cuma bikin mekanismenya lebih gampang dilihat.
Kamu sudah kira-kira tahu berapa pengeluaranmu. Jarak yang digambarkan data OJK tadi ada di sisi sebelahnya.
Masukkan apa saja yang kamu punya, tabungan, deposito, emas, saham, reksa dana, kripto, lalu biarkan totalnya terhitung sendiri. Setelah itu buka halaman Gains untuk lihat berapa bagian dari hasilmu yang benar-benar berasal dari pertumbuhan aset, bukan dari setoranmu sendiri. Itu gambaran paling jelas soal apakah "memutar untung" sudah benar-benar bekerja buat kamu.
Untuk konteks soal apa yang terjadi ke uang tunaimu selama dia diam, baca biaya sebenarnya dari uang menganggur, dan cara memisahkan setoran dari untung asli.