Rasio Utang Indonesia ke PDB Baru Saja Tembus Titik Tertinggi Beberapa Tahun Terakhir. Tetanggamu Masih Utang Lebih Banyak
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Per 30 Juni 2026, utang pemerintah Indonesia mencapai Rp10.293,69 triliun, setara 41,26% dari seluruh perekonomian. Itu rasio utang terhadap PDB tertinggi yang pernah dicatat Indonesia dalam setidaknya empat tahun terakhir (data Kementerian Keuangan via Infobanknews; CNBC Indonesia; Tribunnews). Kedengarannya mengkhawatirkan? Angka berikutnya justru kasih konteks yang beda: negara-negara tetangga Indonesia punya beban utang 50% sampai 60% lebih berat, dibanding ukuran ekonomi mereka masing-masing.
Rasio utang terhadap PDB adalah total utang pemerintah dibagi PDB, produk domestik bruto, total nilai semua barang dan jasa yang dihasilkan sebuah negara dalam satu tahun. Menyatakan utang sebagai persentase dari PDB, bukan sebagai angka rupiah mentah, adalah cara ekonom membandingkan beban utang sebuah negara dari tahun ke tahun dan dengan negara lain, karena ekonomi yang lebih besar wajar kalau menanggung utang lebih besar juga secara nominal.
Utang pemerintah Indonesia sebagian besar berbentuk Surat Berharga Negara (SBN), obligasi pemerintah yang dijual ke bank, dana pensiun dan investor asing. Per Juni 2026, SBN menyumbang Rp8.966,79 triliun dari total utang, sekitar 87%, sisanya berupa pinjaman (Infobanknews).
Rasio ini sudah naik terus selama lebih dari setahun. Angkanya 39,70% di 2022, turun tipis ke 39,21% di 2023, lalu naik lagi ke 39,36% di akhir 2024 (DDTC News; Bisnis Indonesia), dua-duanya angka resmi dari Kementerian Keuangan. Rasionya terus naik sepanjang 2026, ke 40,75% di akhir Maret, lalu ke 41,26% di akhir Juni (Antara News; Tempo). Angka Juni itu yang paling tinggi dari seluruh rentang ini, mendekati level yang sempat disentuh rasio ini waktu darurat pandemi 2020 sampai 2021, saat PDB sendiri lagi menyusut.
Rasio utang terhadap PDB Indonesia dibatasi undang-undang. UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara menetapkan batas maksimal 60% dari PDB, batas yang nggak boleh dilewati pemerintah kecuali dalam kondisi darurat (DPR RI). Komisi XI DPR memang lagi mengkaji ulang undang-undang yang sama sebagai bagian dari revisi yang lebih besar, tapi batas 60% itu sendiri, beda dengan pasal-pasal lain, bukan bagian yang mau diubah. Di angka 41,26%, Indonesia masih punya sekitar 19 poin persentase ruang sebelum mendekati batas hukum itu.
Di sinilah konteksnya jadi penting. Rasio Indonesia kelihatan tinggi kalau dibandingkan sejarahnya sendiri, tapi justru rendah dibanding negara-negara di sekitarnya.
| Negara | Rasio utang terhadap PDB | Per | Sumber |
|---|---|---|---|
| Indonesia | 41,26% | Juni 2026 | Kementerian Keuangan |
| Malaysia | 63,1% | Maret 2026 | Kementerian Keuangan |
| Thailand | ~66,8% | Mei 2026 | Public Debt Management Office |
| Filipina | 66% | Juni 2026 | Bureau of the Treasury |
Utang federal Malaysia ada di 63,1% dari PDB per akhir kuartal pertama 2026, turun dari 65,2% di akhir 2025, seiring program konsolidasi fiskal multi-tahun yang dijalankan pemerintahnya (The Star; BusinessToday). Utang publik Thailand tembus sekitar 66,7% sampai 66,8% dari PDB pertengahan 2026, makin dekat ke batas keberlanjutan fiskalnya sendiri di 70%. Rasio Filipina tembus 66% di kuartal kedua 2026, level tertinggi sejak 2004, seiring utang pemerintahnya naik jadi P19,07 triliun (BusinessWorld; GMA News).
Dengan kata lain, ketiga negara tetangga ini punya utang 50% sampai 60% lebih berat, relatif terhadap ukuran ekonomi masing-masing, dibanding Indonesia. Thailand cuma punya sekitar 3 poin persentase ruang tersisa sebelum batas fiskalnya sendiri. Indonesia masih punya hampir 19.
Rasio yang rendah hari ini nggak menjamin bakal tetap rendah selamanya. Yang beneran dipantau investor obligasi adalah arahnya: apakah selisih antara pertumbuhan utang dan pertumbuhan PDB makin menyempit, tetap, atau makin melebar. Rasio Indonesia sudah naik terus di setiap periode yang tercatat sejak 2023. Defisit APBN yang terus melebar, topik yang sudah dibahas NetWort di artikel bagaimana defisit APBN mendorong penerbitan obligasi, adalah aliran yang nambahin utang setiap tahun. Kalau defisit APBN ini digabung dengan defisit transaksi berjalan di waktu yang sama, pola yang sudah dibahas NetWort di artikel defisit kembar Indonesia, tren rasio utang terhadap PDB ini jadi salah satu angka paling jelas buat memantau apakah tekanan itu makin membesar atau mereda.
Kamu nggak perlu mantengin rilis triwulanan Kementerian Keuangan sendiri. Halaman Macro Context di NetWort melacak indikator fiskal dan moneter utama Indonesia, plus suku bunga The Fed, BI Rate dan nilai tukar yang menghubungkan semuanya, diperbarui begitu data resmi baru keluar.