Subsidi BBM dan Listrik 2026 Sudah Cair Rp331 Triliun. Ini Duitnya Larinya ke Mana
Baca 3 menit
Baca 3 menit
Sampai akhir Agustus 2026, pemerintah sudah membayar Rp331,4 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi. Di periode yang sama tahun lalu, angkanya Rp218 triliun. Naiknya sekitar Rp113 triliun. Itulah cerita subsidi BBM dan listrik tahun ini, dan efeknya sampai ke harga bensin, tagihan listrik, dan utang negara.
Di sini kita bahas ke mana uangnya pergi, pelan-pelan. Istilah baru selalu dijelaskan saat pertama muncul.
Ini angkanya sesuai laporan. Data Kementerian Keuangan lewat Kontan mencatat pembayaran sampai Agustus 2026 sebesar Rp331,4 triliun, atau 74,2% dari target setahun. Isinya dua bagian:
| Bagian | Dibayar Jan sampai Agu 2026 | Dibanding periode sama 2025 |
|---|---|---|
| Subsidi (uang agar harga tetap murah) | Rp177,1 triliun | +29,17% |
| Kompensasi (ganti rugi ke Pertamina dan PLN) | Rp154,4 triliun | +18,45% |
| Total | Rp331,4 triliun | naik sekitar Rp113 triliun |
Rencana awalnya lebih kecil. APBN 2026 menyiapkan Rp210,1 triliun untuk subsidi energi: Rp104,65 triliun untuk listrik dan Rp105,41 triliun untuk BBM dan LPG 3 kg, menurut Detik.
Lalu harga minyak naik. Bisnis.com melaporkan Menkeu menambah kebutuhan subsidi dan kompensasi 2026 sebesar Rp132 triliun. Total belanja negara dipatok Rp3.842,7 triliun dan kini diproyeksikan Rp3.942,4 triliun.
Dua kata ini mirip, tapi beda.
Subsidi adalah uang yang dibayar pemerintah langsung supaya harga tetap rendah. Contohnya LPG 3 kg dan listrik bersubsidi.
Kompensasi adalah ganti rugi. Saat pemerintah menyuruh Pertamina atau PLN (BUMN minyak dan listrik) jual di bawah biaya aslinya, pemerintah berjanji menutup selisihnya nanti. Perusahaan jual murah dulu. Negara bayar belakangan.
Sekarang pembayaran ke dua perusahaan itu dilakukan tiap bulan, bukan tiap kuartal, lapor Kontan.
Harga Pertalite Rp10.000 per liter sejak September 2022. Pemerintah bilang harganya tidak naik sampai akhir 2026. Biosolar bersubsidi tetap Rp6.800.
Selisih dengan harga aslinya besar. Pertamina mencantumkan harga Pertalite tanpa subsidi Rp18.040 per liter di struk pembelian pada Juni 2026, lapor Okezone. Artinya ada dukungan Rp8.040 di tiap liter, sesuai laporan itu.
Harga BBM juga soal politik. Kalau naik, ongkos transportasi dan makanan ikut naik, dan kamu langsung terasa di minggu yang sama. Makanya pemerintah susah memotongnya.
Kenaikan BBM bersubsidi terakhir terjadi 3 September 2022. Pertalite dari Rp7.650 jadi Rp10.000 (naik 30,72%) dan Solar naik 32,04% jadi Rp6.800, menurut Kontan.
Inflasi langsung bereaksi. BPS mencatat inflasi September 2022 sebesar 1,17% dari bulan sebelumnya, dan 5,95% secara tahunan. Kelompok transportasi saja naik 8,88% di bulan itu dan menyumbang 1,08 poin ke inflasi total, menurut Bisnis.com.
Inflasi adalah seberapa cepat harga naik. Saat inflasi melonjak, uang tabunganmu dapat barang lebih sedikit. Bahasan kami soal inflasi dan tabungan menunjukkan efeknya ke uang yang menganggur.
Tiap rupiah yang dipakai subsidi tidak bisa dipakai untuk hal lain, atau harus dipinjam. Proyeksi Menkeu menaikkan defisit 2026 dari Rp689,1 triliun (2,68% PDB) jadi Rp734,3 triliun (2,85%), lapor Bisnis.com. Defisit lebih besar berarti lebih banyak obligasi pemerintah yang dijual. Cara kerjanya ada di bahasan defisit APBN dan yield obligasi.
Harga minyak juga menggerakkan rupiah, seperti dibahas di dampak harga minyak ke rupiah.
Ini informasi umum, bukan saran memilih instrumen. Intinya sederhana: subsidi yang kelihatan seperti harga bensin sebenarnya satu baris di anggaran negara.
Biaya subsidi mengikuti harga minyak, rupiah, dan inflasi. Buka dashboard Macro NetWort untuk melihat inflasi, BI rate, dan USD/IDR berdampingan, lalu perhatikan gerakannya saat harga minyak bergerak.