Cuma Menang 40% dari Transaksi Tapi Tetap Untung. Ini Hitungan Win Rate dan Payoff Ratio
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Ada dua trader. Masing-masing bikin 100 transaksi. Trader A menang 70 kali. Trader B cuma menang 40 kali. Siapa yang uangnya lebih banyak di akhir tahun?
Kebanyakan orang jawab Trader A. Padahal di contoh bawah ini, Trader A malah rugi dan Trader B untung. Bukan soal hoki. Penyebabnya ada di hubungan antara win rate dan payoff ratio, yang disatukan oleh satu angka bernama expectancy.
Semua angka di artikel ini cuma contoh rekaan untuk menunjukkan hitungannya. Ini bukan klaim soal hasil trader sungguhan.
Win rate adalah persentase transaksi kamu yang untung. Kalau 4 dari 10 transaksi untung, win rate kamu 40%.
Angka ini terasa kayak skor pertandingan. Tinggi terasa bagus. Rendah terasa gagal.
Tapi win rate cuma menghitung seberapa sering kamu menang. Dia nggak bilang berapa besar untungnya, atau berapa besar rugimu saat salah. Bagian yang hilang itu namanya payoff ratio.
Payoff ratio membandingkan rata-rata untung dengan rata-rata rugi kamu.
Payoff ratio = Rata-rata untung ÷ Rata-rata rugi
Misalnya transaksi yang untung biasanya memberi Rp2.000.000, dan transaksi yang rugi biasanya Rp1.000.000. Payoff ratio kamu 2. Untungmu dua kali lipat ruginya.
Kalau untungmu Rp500.000 dan ruginya Rp1.500.000, payoff ratio kamu 0,33. Ruginya tiga kali lipat untungnya.
Expectancy adalah rata-rata hasil per transaksi, kalau kamu mengulang pola yang sama berkali-kali.
Expectancy = (Win rate × Rata-rata untung) − (Loss rate × Rata-rata rugi)
Loss rate itu 100% dikurangi win rate. Kalau win rate 40%, loss rate-nya 60%.
Expectancy positif artinya pola kamu untung secara rata-rata. Negatif artinya rugi secara rata-rata. Nol artinya kamu cuma bayar biaya transaksi tanpa maju.
Ini dua trader rekaan tadi, berdampingan.
| Trader A | Trader B | |
|---|---|---|
| Win rate | 70% | 40% |
| Rata-rata untung | Rp500.000 | Rp2.000.000 |
| Rata-rata rugi | Rp1.500.000 | Rp1.000.000 |
| Payoff ratio | 0,33 | 2,0 |
Sekarang masukkan ke rumus.
Trader A: (0,70 × Rp500.000) − (0,30 × Rp1.500.000) = Rp350.000 − Rp450.000 = −Rp100.000 per transaksi.
Trader B: (0,40 × Rp2.000.000) − (0,60 × Rp1.000.000) = Rp800.000 − Rp600.000 = +Rp200.000 per transaksi.
Setelah 100 transaksi, Trader A minus sekitar Rp10.000.000. Trader B plus sekitar Rp20.000.000.
Trader A menang tujuh dari sepuluh, tapi tetap rugi. Satu kali rugi menghapus tiga kali untung. Trader B kalah enam dari sepuluh, tapi tetap di atas. Satu kali untung menutup dua kali rugi.
Rumusnya bisa dibalik. Dengan payoff ratio tertentu, berapa win rate yang kamu butuhkan supaya cuma impas?
Win rate impas = 1 ÷ (1 + Payoff ratio)
| Payoff ratio | Win rate impas |
|---|---|
| 0,33 | 75% |
| 0,5 | 66,7% |
| 1 | 50% |
| 2 | 33,3% |
| 3 | 25% |
Cara bacanya begini. Kalau rata-rata untung sama besar dengan rata-rata rugi (rasio 1), kamu harus menang lebih dari separuh transaksi. Kalau untungmu tiga kali ruginya, kamu boleh salah tiga dari empat kali dan tetap impas.
Makanya dua angka ini nggak bisa dinilai sendiri-sendiri. Strategi yang menang 80% tapi rasionya 0,2 butuh win rate impas 83%. Kedengarannya aman, padahal rugi.
Biaya broker dan pajak itu tetap, untung maupun rugi. Langsung memotong expectancy kamu.
Misalnya satu kali beli dan jual kena biaya Rp50.000. Untung Trader B yang Rp200.000 per transaksi jadi Rp150.000. Rugi Trader A yang Rp100.000 membengkak jadi Rp150.000.
Keunggulan yang tipis bisa habis setelah biaya. Jadi kalau mau menguji angka sendiri, pakai hasil setelah biaya, bukan sebelum.
Misalnya kamu sudah 20 transaksi dan menang 8. Win rate kamu 40%. Apa angka itu bisa dipegang?
Belum terlalu. Dengan 20 transaksi saja, margin kesalahan statistiknya besar. Win rate sebenarnya di kisaran 18% sampai 62% masih bisa dengan mudah menghasilkan angka seperti punyamu. (Kisaran itu dua kali standard error di kiri dan kanan 40%, dihitung dengan 2 × √(0,4 × 0,6 ÷ 20).)
Rentetan kalah juga kelihatan lebih seram dari aslinya. Kalau win rate kamu 40%, peluang 5 transaksi berturut-turut rugi semua adalah 0,6 pangkat 5, atau sekitar 7,8%. Dalam seratus transaksi, kejadian begini wajar. Rentetan rugi bukan bukti pendekatanmu rusak. Sebaliknya, rentetan untung juga bukan bukti pendekatanmu pasti jalan.
Jadi kesimpulan jujurnya: expectancy cuma sebagus jumlah data di baliknya. Lima puluh transaksi atau lebih jauh lebih bisa dipercaya daripada sepuluh.
Expectancy itu konsep yang rapi, tapi trading sungguhan lebih berantakan.
Semua ini nggak memprediksi apa yang akan dilakukan aset mana pun berikutnya.
Kamu nggak harus jadi trader supaya ini berguna. Intinya, satu angka harus bisa menggambarkan seberapa sering dan seberapa besar hasilnya.
Buka kartu Kesehatan Portofolio di dashboard NetWort. Di sana ada IRR (return kamu yang sudah memperhitungkan kapan kamu berinvestasi), volatility, Sharpe, dan Max Drawdown. Lihat Max Drawdown dulu. Itu ukuran nyata penurunan terburukmu sejauh ini, dan menunjukkan seberapa banyak rugi yang sebenarnya sudah harus kamu tahan.