Kekayaan Eddy Sariaatmadja: Pemilik SCTV yang Angka Forbes-nya Beda $600 Juta dalam Satu Bulan
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kalau kamu pernah nonton SCTV atau Indosiar, kamu sudah kenal bisnisnya tanpa pernah tahu namanya. Kekayaan Eddy Sariaatmadja tercatat $1,2 miliar atau $1,8 miliar, dan dua-duanya berasal dari Forbes pada Desember 2025. Eddy Kusnadi Sariaatmadja adalah salah satu pendiri Elang Mahkota Teknologi (Emtek), grup di balik SCTV, Indosiar, dan MOJI. Namanya sempat hilang dari daftar orang terkaya Indonesia selama dua tahun, lalu kembali muncul Desember 2025 setelah saham Emtek melonjak seiring rencana IPO Super Bank Indonesia yang lama ditunggu. Dua angka Forbes di atas bukan beda karena harga saham bergerak. Bedanya ada di siapa yang dihitung sebagai "dia".
| Penerbit | Tanggal | Angka | Cakupan |
|---|---|---|---|
| Forbes, profil "Eddy Kusnadi Sariaatmadja" (via Inilah.com) | Desember 2025 | $1,2 miliar (~Rp20,1 triliun) | Individu: 13.439.147.454 lembar saham EMTK miliknya langsung, 21,89% dari total saham |
| Forbes, profil "Eddy Kusnadi Sariaatmadja & family", Indonesia's 50 Richest 2025 | 10 Desember 2025 | $1,8 miliar | Total keluarga, peringkat ke-36 Indonesia |
Dua-duanya angka Forbes, dua-duanya bertanggal bulan yang sama, dan tidak ada satu pun yang lebih basi dari yang lain. Forbes memang punya dua halaman profil terpisah untuknya: satu menghitung saham EMTK yang dipegangnya sendiri, satu lagi menghitung kekayaan keluarga besar di seluruh grup Emtek. Database billionaire Forbes 2026 masih mencantumkan angka keluarga $1,8 miliar, tanpa angka baru bertanggal terpisah yang kami temukan sampai riset kali ini. Tidak ada angka Bloomberg yang secara spesifik menyebut nama Eddy Sariaatmadja yang ditemukan dalam pencarian kali ini, jadi berbeda dari kebanyakan profil di seri ini, hanya ada satu penerbit yang benar-benar memberi angka untuknya.
Emtek adalah intinya, dan kelompok usaha ini termasuk cukup terbuka untuk ukuran konglomerat sebesarnya: empat entitas grup tercatat di BEI, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA, pengelola SCTV dan Indosiar), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), dan sejak 17 Desember 2025, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), yang IPO dengan dana terkumpul sekitar Rp2,79 triliun dan oversubscribed 318 kali. Free float Bukalapak sendiri ada di angka 31,75% per Maret 2026, dengan PT Kreatif Media Karya memegang 44,9% dan Emtek memegang 10,49% secara langsung, menurut data pemegang saham yang dihimpun Emitentrust.com. EMTK, SCMA, BUKA, maupun SUPA belum masuk daftar aset kurasi NetWort, jadi keempatnya hanya disebut di sini tanpa tautan.
Antusiasme IPO Super Bank Indonesia ternyata tidak bertahan lama. Saham SUPA sudah turun 34,22% sepanjang tahun berjalan ke Rp615 pada 11 Juni 2026, menurut Bisnis.com, padahal Superbank sendiri melaporkan laba bersih kuartal I 2026 sebesar Rp78,19 miliar, melonjak dari cuma Rp251 juta setahun sebelumnya, dengan total aset naik 70,54% year-on-year jadi Rp23,9 triliun. Alih-alih membaca penurunan harga saham sebagai sinyal buruk, anak usaha Emtek, PT Elang Media Visitama, justru menambah kepemilikannya: membeli 10,55 juta lembar saham di harga Rp582 pada 9 Juni 2026, lalu 3 juta lembar lagi di harga Rp642 keesokan harinya, senilai total sekitar Rp8,06 miliar, menurut Bisnis.com dan Liputan6.com, yang mengangkat porsi hak suara anak usaha itu di Superbank menjadi sekitar 27,64%. Ini bukan aksi sekali saja: CNBC Indonesia sebelumnya melaporkan Emtek merogoh Rp25 miliar untuk membeli saham SUPA pada 5 Januari 2026.
Kekayaan ini berada lebih dekat ke ujung transparan dari spektrum seri ini dibanding kebanyakan profil lain: empat entitas tercatat di BEI, masing-masing wajib lapor tiap kuartal, jauh berbeda dari Sri Prakash Lohia yang kerajaan bisnis Indorama Corporation-nya sepenuhnya privat. Yang justru tidak jelas adalah lapisan perhitungan pribadi di atasnya: angka individu Forbes sebesar $1,2 miliar dan angka keluarga $1,8 miliar terpaut 50%, dan Forbes tidak mempublikasikan kerabat atau entitas mana saja yang membuat selisih itu. Ini soal definisi, bukan perbedaan fakta di lapangan, mirip dengan yang memisahkan kerajaan bisnis privat Sri Prakash Lohia dari perusahaan terpisah milik adiknya, Aloke, yang tercatat di bursa Thailand. Ini juga pengingat menarik kalau dibandingkan dengan CT Corp milik Chairul Tanjung, yang juga sedang bertaruh di bank digital lewat Allo Bank: dua konglomerat Indonesia sama-sama mendukung bank digital masing-masing di periode yang sama tahun 2026, dengan tingkat keterbukaan publik yang jauh berbeda soal siapa sebenarnya pemiliknya.
Sebelum membandingkan dua angka kekayaan untuk orang yang sama, cek dulu apakah keduanya benar-benar mengukur hal yang sama. Saham milik pribadi dan total kekayaan keluarga bukan angka yang bisa saling menggantikan, dan menganggap lompatan dari satu ke yang lain sebagai perubahan kekayaan dari waktu ke waktu justru salah menggambarkan apa yang terjadi, mirip dengan cara saham Marina Budiman, DCII, berayun kencang karena volume perdagangannya yang tipis, bukan gambaran bersih dari bisnis intinya. Mengamati saham yang baru IPO dan tipis diperdagangkan seperti SUPA juga jadi pelajaran tersendiri: tulisan NetWort tentang performa saham IPO di tahun pertama membahas kenapa saham yang baru tercatat di BEI sering berayun lebih keras dibanding saham lama, ke arah mana pun, jauh setelah hari pencatatan perdana.