Indonesia Bayar Bunga Utang Ratusan Triliun Setahun. Ini Berapa Persen dari Tiap Rupiah Pajak yang Habis di Situ
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Bayangkan gajimu Rp10 juta sebulan. Sebelum beli makan atau bayar kos, Rp1,9 juta sudah langsung kepotong buat cicilan utang lama. Begitulah gambaran APBN 2026.
Tahun ini pemerintah menganggarkan Rp599,44 triliun untuk bayar bunga utang. Target pendapatan negara Rp3.153,58 triliun. Bagi keduanya, hasilnya sekitar 19%. Artinya, dari tiap Rp100 yang dikumpulkan negara, sekitar Rp19 habis untuk bunga.
Di sini kita bahas rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara dengan bahasa sederhana, angkanya, dan kenapa ukuran ini lebih jujur daripada rasio utang terhadap PDB.
Bunga adalah ongkos yang dibayar pemerintah karena meminjam. Dibayarkan untuk obligasi dan pinjaman. Bunga bukan pokok utang. Pelunasan pokok itu biaya yang terpisah.
Rasio ini menjawab satu pertanyaan: dari semua uang yang masuk ke kas negara, berapa yang sudah "dipesan" untuk bunga?
Mirip porsi gajimu yang habis buat cicilan sebelum yang lain. Makin besar porsinya, makin sedikit sisa untuk sekolah, jalan, kesehatan, dan belanja lainnya.
Angka ini dari APBN 2026 seperti dilaporkan Kontan dan Bisnis.com:
| Pos | APBN 2026 |
|---|---|
| Bunga utang | Rp599,44 triliun |
| bunga utang dalam negeri | Rp538,70 triliun |
| bunga utang luar negeri | Rp60,74 triliun |
| Target pendapatan negara | Rp3.153,58 triliun |
| Bunga dibanding pendapatan | sekitar 19% |
APBN 2025 menganggarkan Rp552,85 triliun, jadi angka 2026 naik 8,43%.
Angka 19% itu hasil hitungan kami sendiri dari dua angka anggaran tadi. Ada juga laporan yang menyebut bunga utang sekitar 19% dari belanja pemerintah pusat. Itu dasar hitung yang beda, jadi jangan dicampur.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah mengusulkan Rp650,31 triliun untuk bunga utang, menurut Investortrust dan DDTC News. Naik 11,69% dari outlook 2026, atau sekitar 19,34% dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp3.362,19 triliun.
Ini masih rancangan. DPR bisa mengubahnya. Kami tidak menemukan target pendapatan 2027 yang bisa diverifikasi, jadi rasio 2027 tidak kami hitung.
Ya, kalau dibanding patokan umum. Ini perbandingannya, dari ringkasan laporan Bank Dunia Desember 2025:
Sejumlah ekonom juga menyebut pedoman IMF sebesar 7% sampai 10%. Kami hanya melihatnya di ringkasan berita, bukan dokumen IMF, jadi anggap sebagai patokan kasar.
Konteksnya penting. Bank Dunia mencatat biaya pinjaman Indonesia tidak terlalu tinggi. Rasionya tinggi terutama karena pendapatan negara kecil. Postingan kami soal rasio pajak Indonesia dibanding ASEAN menjelaskan alasannya.
Yang biasa jadi judul berita adalah rasio utang terhadap PDB. Angka itu membandingkan total utang dengan ukuran ekonomi.
Berguna, tapi tidak memberi tahu berapa ongkos utang tiap tahun, atau apakah negara bisa bayar tanpa memotong pos lain.
Rasio bunga terhadap pendapatan menjawab itu. Negara dengan utang sedang tapi pendapatan kecil tetap bisa terjepit. Itu yang terjadi di sini.
Tiap rupiah bunga adalah rupiah yang tidak bisa dipakai untuk hal lain. Kalau bunga tumbuh lebih cepat dari pendapatan, pemerintah punya tiga pilihan:
Pilihan ketiga yang berisiko. Ia memakan dirinya sendiri.
Buat investor, ini latar belakang, bukan sinyal. Anggaran yang ketat bisa membuat pemerintah menerbitkan lebih banyak obligasi. Pasokan lebih banyak bisa mendorong yield naik. Rantainya kami bahas di defisit APBN dan yield obligasi.
Yang terakhir bisa kamu pantau sendiri. Buka halaman makro NetWort dan lihat yield 10 tahun Indonesia di samping BI-Rate. Kalau yield naik sementara anggaran tetap ketat, kamu sedang melihat cerita ini langsung.