Kekayaan Jogi Hendra Atmadja: Forbes Pangkas dari US$4,4 Miliar Jadi US$3,5 Miliar Setahun
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kalau kamu pernah nonton drama Korea dan lihat pemerannya makan permen kopi berbungkus kuning-merah sambil bilang "stres hilang", itu Kopiko, produk Mayora, perusahaan keluarga Atmadja. Kekayaan Jogi Hendra Atmadja tercatat US$3,5 miliar per 10 Desember 2025 menurut daftar Forbes "Indonesia's 50 Richest 2025", menempatkan pendiri Mayora Group dan keluarganya di peringkat ke-24 nasional. Setahun sebelumnya, daftar Forbes "Indonesia's 50 Richest 2024" (11 Desember 2024) mencatat keluarga yang sama di peringkat ke-11 dengan kekayaan US$4,4 miliar. Artinya, dalam setahun, angka yang sama-sama berasal dari Forbes ini turun sekitar 20% dan peringkatnya melorot 13 tingkat, padahal laba Mayora sendiri justru melonjak di periode yang sama.
Forbes mencatat kekayaan ini atas nama "Jogi Hendra Atmadja & family" di dua daftar tahunan berturut-turut. Daftar "Indonesia's 50 Richest 2024", terbit 11 Desember 2024, menempatkan keluarga ini di peringkat ke-11 nasional dengan kekayaan US$4,4 miliar. Daftar "Indonesia's 50 Richest 2025", terbit 10 Desember 2025, menempatkan keluarga yang sama di peringkat ke-24 dengan kekayaan US$3,5 miliar, turun sekitar US$0,9 miliar dan 13 peringkat dalam setahun. Dua-duanya angka Forbes, jadi penurunan ini adalah perbandingan sah dalam satu tracker, bukan perbandingan antar tracker. Tidak ada angka Bloomberg Billionaires Index yang secara spesifik menyebut nama Jogi Hendra Atmadja atau keluarga Atmadja yang ditemukan meski sudah beberapa kali dicari, konsisten dengan temuan tetap seri ini: Bloomberg hanya memberi angka individual untuk segelintir orang Indonesia saja, yaitu Sukanto Tanoto, Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong, Robert Budi Hartono, dan Tahir.
| Tanggal | Sumber | Angka | Peringkat di Indonesia |
|---|---|---|---|
| 11 Desember 2024 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2024" | US$4,4 miliar | Ke-11 |
| 10 Desember 2025 | Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | US$3,5 miliar | Ke-24 |
Jogi Hendra Atmadja, lahir 1946, awalnya berprofesi sebagai dokter sebelum meninggalkan dunia medis untuk mendirikan Mayora Group bersama saudara-saudaranya pada 1977. Kini ia menjabat Komisaris Utama PT Mayora Indah Tbk (MYOR), sementara operasional sehari-hari dijalankan tiga anaknya: Andre Sukendra Atmadja sebagai Presiden Direktur sejak 2011, Hendarta Atmadja sebagai Direktur Supply Chain, dan Wardhana Atmadja sebagai Direktur Umum dan Operasional. Berdasarkan data registrasi pemegang saham per akhir Mei 2025 yang dilaporkan Bisnis.com, Jogi secara pribadi memegang 5.643.777.700 lembar saham MYOR, setara 25,24% dan jadi kepemilikan individu terbesar di perusahaan; entitas keluarga PT Mayora Dhana Utama terpisah menguasai 26,14%.
Lebih dari 50 merek Mayora, termasuk Kopiko, Danisa, Beng-Beng, Energen, dan Torabika, diekspor ke lebih dari 80 negara. Kopiko secara khusus berhasil membangun pengenalan merek yang tidak biasa di Korea Selatan lewat penempatan produk berbayar di drama televisi: Hometown Cha-Cha-Cha dan Vincenzo pada 2021, Castaway Diva pada 2023, Connection pada 2024, dan Brave New World yang tayang di SBS dan Netflix pada 2026, diatur lewat importir asal Seoul, Macrocom, menurut laporan Korea Times bertanggal 19 Juni 2026. Ini mekanisme kekayaan berbasis merek konsumen yang belum pernah dipakai seri ini sebelumnya: pengenalan nama secara global yang dibangun adegan demi adegan di industri televisi negara lain, bukan lewat satu saham raksasa yang tercatat di bursa.
MYOR tidak masuk daftar ticker kurasi NetWort, sudah dicek lewat frontend/scripts/curated-tickers.mjs dan backend/app/services/asset_symbol_service.py, jadi hanya disebut nama dan kode sahamnya di sini, tanpa tautan aset internal.
Dua angka bergerak berlawanan arah tahun ini. Laporan keuangan semester I 2026 Mayora sendiri, dilaporkan 3 Agustus 2026 oleh Bisnis.com, mencatat laba bersih naik 46,52% dari tahun sebelumnya menjadi Rp1,70 triliun, sekitar US$96 juta dengan kurs pertengahan September 2026 di kisaran Rp17.700 per dolar, padahal pendapatan hanya naik 0,70%, didorong efisiensi biaya dan keuntungan nilai tukar, bukan penjualan yang lebih banyak. Di periode yang hampir sama, saham MYOR justru turun sekitar 19% sejak awal 2026 hingga awal Juni, menurut Kontan, ditutup di Rp1.630 pada 8 Juni 2026, menurut Bareksa. BRI Danareksa Sekuritas memangkas target harga MYOR dari Rp2.700 menjadi Rp2.500, menurut Investortrust.id, dengan alasan pertumbuhan pendapatan semester I yang cuma 0,7%, gangguan distribusi domestik di kuartal pertama, dan penjualan ekspor yang lesu di tengah tingginya biaya bahan bakar.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Mayora, digelar 4 Juni 2026, menyetujui dividen tunai Rp60 per saham untuk tahun buku 2025, setara 45,42% dari laba bersih tahun itu sebesar Rp2,909 triliun, dibayarkan ke pemegang saham yang tercatat per 17 Juni 2026 pada 7 Juli 2026. Bisnis.com menghitung bagian Jogi Hendra Atmadja secara langsung dari pembagian itu, berdasarkan kepemilikannya yang tercatat 25,24%, sekitar Rp338 miliar, sekitar US$19 juta, dilaporkan 6 Juli 2026.
Tidak sekuat kelihatannya dari satu baris peringkat. Cuma Forbes yang memberi angka untuk keluarga ini; tidak ada angka Bloomberg bertanggal untuk membandingkannya, selisih satu-tracker yang sama seperti yang sudah ditemukan seri ini pada Peter Sondakh dan keluarga Setiawan. Angka US$3,5 miliar dari Forbes juga sudah lebih dari sembilan bulan berlalu saat artikel ini terbit, dan angka itu berdampingan janggal dengan lonjakan laba semester I 2026 Mayora sebesar 46,52%, sebuah fakta perusahaan yang belum dimasukkan penerbit mana pun ke angka kekayaan yang diperbarui. Artikel ini menyatakan kesenjangan itu apa adanya, bukan mengubahnya jadi estimasi baru yang belum pernah dipublikasikan Forbes sendiri.
Kekayaan seorang pendiri konglomerat yang tercatat bisa turun di daftar orang kaya tahunan, bahkan di tahun yang sama perusahaannya sendiri melaporkan laba yang melonjak tajam, karena angka kekayaan utama hanyalah potret harga saham dan kepemilikan yang diungkap pada satu hari tertentu, bukan rekap berjalan dari bisnis di baliknya. Seri ini menemukan pola persis sama seminggu sebelumnya di Kalbe Farma: saham turun berbanding laba naik, perusahaan berbeda, kesenjangan yang sama. Untuk kekayaan konglomerat keluarga dan konsumer Indonesia lain di seri ini, baca juga:
Kalau portofolio kamu ada saham konsumer atau makanan-minuman Indonesia, halaman makro NetWort memantau kurs USD/IDR setiap hari, bukan cuma satu titik kurs seperti yang dipakai untuk mengonversi angka Rupiah di atas.